oleh Hojot Marluga
Tak banyak yang tahu penyanyi Eddy Silitonga dibesarkan perang. Di tahun 1958, saat terjadi pemberontakan PRRI, Iccon, panggilan akrab masa kecil Eddy Silitonga, ketika baru berusia sembilan tahun sudah menyanyi menghibur tentara Batalyon 133, Labuhan Batu, Sumatera Utara. Tak jauh dari kampungnya di Aek Nabara, Rantau Parapat. Ada satu episode yang paling membekas dalam benaknya, yaitu ketika menghibur tentara. Saat itu terjadi kontak senjata antara tentara pusat dengan tentara PRRI pimpinan Kolonel Simbolon. Ibunya, Theresia Siahaan seorang parrengge-rengge (pedagang kaki lima di pasar) melarangnya menyanyi. Namun, dasar sudah talenta, Eddy tidak menghiraukannya. Dia terus menyanyi, sebab selalu dapat uang.
Eddy Silitonga adalah anak keempat dari 11 bersaudara dari pasangan Gustav Silitonga-Theresia Siahaan. Lahir di Pematang Siantar, 17 November 1950. Sebelum puncak kejayaannya tahun1976 hingga 1979, Eddy yang bersuara memukau itu membentuk “Eddy’s Group” di mana empat saudaranya ikut bergabung. Grup ini selalu tampil di Hotel Borobudur. Kemudian, dia bergabung dalam Pengayuban Artis Jakarta Selatan. Sampai kini, dia telah menorehkan sejarah dari penyanyi kampung menjadi penyanyi nasional. Suara tenornya sudah terekam dalam 80 album.
Karir Eddy sebagai penyanyi melalui perjalanan panjang. Merantau ke Jakarta tahun 1968, dengan tujuan hanya ingin sekolah. Ia masuk Akademi Pimpinan Perusahaan di Karang Anyar, Jawa Tengah. Untuk membiayai hidup, Eddy terpaksa mengamen di mana saja. Seribu rupiah sekali manggung. Menurutnya, seribu rupiah tahun itu sudah cukup untuk biaya hidup tiga hari. Hidup yang keras itu dilakoninya selama satu tahun. Kemudian, tulangnya (saudara laki-laki ibu) mengajaknya ke Manila untuk melanjutkan pendidikan. Di kota itu, dia bukannya memperdalam pengetahuan mengenai manajeman, tetapi berpindah ke jurusan kimia. Eddy gagal. Tiga tahun di Manila tidak memberikan apa-apa bagi hari depannya.
Bagaikan bangau kembali ke sarang, tahun 1973 Eddy tiba kembali di Jakarta. Hidupnya terlunta-lunta. Tak ada pekerjaan yang pasti. Apalagi saat itu dia belum punya tempat tinggal tetap. Eddy harus berpindah-pindah dari rumah kontrakan yang satu ke kontrakan yang lain. Dia bahkan sempat tidur beralaskan koran, sementara siangnya sebagai kernet. Dia mencoba mengadu nasib dengan melamar ke pusat-pusat hiburan di mana dulu dia pernah menyanyi. Tapi, tak ada yang mau menerimanya. “Semua berkata, sayang, suara seperti ini tidak laku dijual,” ujar mantan pemenang Bintang Radio 1975 ini mengenang.
Pintu mulai terbuka untuknya tahun 1976. Eddy diajak Rinto Harahap untuk terjun ke dunia rekaman. Album perdananya berjudul Biarlah Sendiri, ciptaan Rinto Harahap sendiri. Menurut Rinto, suara Eddy “melengking dan merdu,” berbeda dengan suara penyayi lain. Tapi, album yang paling membubung dan booming adalah “Mama”. Lagu tersebut melejitkan Eddy Silitonga. Lagu itu sudah ribuan kali dia nyanyikan.
“Lagu Mama ini sudah mendatangkan miliaran rupiah,” katanya.
Beberapa kali dia diundang ke pesta pembangunan gereja HKBP. Padahal, “Saya sendiri (jemaat) Metodist,” ujar ayah empat anak ini tersenyum.
Pertemuannya dengan Rinto Harahap berawal dari festival pop singer tahun 1975, yang dimenangkan Melki Goslow. Eddy sendiri hanya masuk nominasi bersama Berlian Hutauruk. Eddy satu-satunya penyayi yang terpilih sebagai penyanyi paling favorit.
Karena kelenturan vokal dan sikapnya, tak heran Eddy juga bisa menyanyikan lagu Jawa Dandang Gulo. Kemampuan berbahasa Jawa dia peroleh dari lingkungan perkebunan di mana dia hidup dan dibesarkan.
“Aku duluan mengenal adat istiadat Jawa, karena delapan puluh persen di daerah kami adalah orang Jawa. Setelah di Jakarta baru aku menemukan jati diriku, orang Batak,” tambahnya.
Indonesia ada dalam tubuh Eddy Siltonga. Karena ciri khasnya yang dengan piawai mampu membawakan lagu-lagu daerah, mulai dari Madura, Bugis, Makassar, Sunda, Aceh, Jawa, sampai Melayu yang mendayu-dayu. Malah, tahun 1983 Eddy meraih Juara I Pria Lomba Lagu Minang Populer yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Eddy adalah legenda hidup dunia lagu pop. Legenda yang terus menyanyi, bersenandung sampai akhir hayatnya. Begitu niatnya. ***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar