Rabu, 18 Juni 2008

LINGKUNGAN DANAU TOBA: Pencemaran dan Penanggulangan



Tao Toba

O, Tao Toba. Angka dolok na Timbo do manghaliangi ho

O, Tao Toba nauli. Ro di halak na dao, tong manghasiholi ho.

O, Tao Toba na uli

O, Tao Toba. Raja ni sudena tao, tao nasumurung na lumobi ulimi

Umbahen masihol, saluhut ni bangso, mamereng ho.

O, Tao Toba nauli

Cipt: Nahum Situmorang

oleh Hojot Marluga

Tiga tujuan wisata internasional di Indonesia; yaitu Bali, Yogya dan Danau Toba (Tao Toba; bhs Batak) berada di Utara Provinsi Sumatera Utara. Provinsi keempat terpadat populasinya setelah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Dengan jumlah penduduk 12.869.169 (sumber BPS). Terdiri dari 19 kabupaten, 7 kotamadya, 326 kecamatan dan 5466 desa. Dan 43,33 % berada di kota, sedangkan 56, 37% tinggal di desa. Salah satu daya pikat provinsi ini ialah danau terbesar di Asia Tenggara, kedua di dunia. Diperkirakan danau ini ada karena kalderanya meletus, memuntahkan batu-batu vulkanik.

Dari cerita rakyat, Danau Toba berasal dari kutukan. Konon seorang pemuda yatim piatu bernama Sipogospogos, tinggal seorang diri di bagian Utara Pulau Sumatera yang sangat kering. Suatu hari, ia memancing dan mendapatkan seekor ikan mas, yang kemudian berubah wujud menjadi perempuan cantik. Dengan sumpah jangan pernah terucap kata-kata asal ikan pada siapapun. Mereka akhirnya menikah. Suatu hari Sipogospogos lalai, marah karena anaknya terlambat mengatar makanan. Dan kata “dasar anak ikan”terucap. Seketika itu pula terjadi hujan dan petir menjadi banjir bandang membentuk Danau Toba. Cerita ini hanyalah mitos.

Dari segi geografis, iklim geologi (klimatologi), maupun dari segi kultural masyarakat. Ia persinggungan empat sub-etnis Batak, Karo, Pakpak, Simalungun, dan Toba. Dilihat dari aspek hidrologis, Danau Toba merupakan sebuah kawasan daerah muara air raksasa yang fungsinya sangat vital bagi kehidupan masyarakat Batak. Karena itu, jumlah debit air yang masuk dan yang keluar harus tetap seimbang agar kondisi air tetap stabil.

Danau Toba memang indah seperti syair Nahum Situmorang. Keindahan Danau Toba terletak pada kombinasi antara, air, batu, tanah, dan masyarakatnya. Penelitian pada tahun 1949, seorang ahli ekologi Belanda van Bemmelen, menemukan, lapisan batu ignimbrite dan batu vulkanik. Batu vulkanik di sekitar Danau Toba diperkirakan berjumlah 2,800 kubik. Dari muntahan vulkanik inilah menciptakan lubang raksasa, menjadi waduk raksasa.

Isu Pencemaran

Beberapa temuan, bahwa kerusakan di Danau Toba sudah sejak tahun 1932, namun itu baru isu. Tahun 1998, delegasi Amerika Serikat Lake Champlain Basin mengunjungi Danau Toba dan menyelidiki ancaman kelestarian kawasan sekitar Danau Toba. Hasilnya Danau Toba sudah tercemar hingga taraf kronis. Berasal bakteri coli, berbahaya bagi kesehatan. Bakteri ini berasal dari tumpahan minyak dan oli yang berasal kapal ferry. Pencemaran lain berasal dari limbah pembuangan detergen berupa zat kimia dari penginapan dan perusahan.

Misalnya, bagi masyarakat yang dulu hidup dari hasil mujahir, sekarang mujahir amat jarang ditemukan. Demikian pula, sumber air panas di Pangururan, Samosir makin kotor. Bukan lagi perambahan hutan ilegal, berdampak penurunan ketinggian air danau. Penuruanan kualitas air akibat berkurangnya resapan air. Maka secara langsung akan mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, dan mengurangi jumlah wisatawan yang datang.

Kerusakannya dibenarkan Umar Manik (56) seorang pawang monyet di hutan lindung Sibatuloting, Simalungun. Sibatuloting berdekatan dengan Kota Parapat sekita 4,5 km. Menurutnya, akibat hutan gundul dan menyempitnya hutan lindung di Sekitar Danau Toba, sekarang, monyet-monyet peliharaan Umar naik ke gunung untuk mencari makanan. “(Monyet) Di gunung makanan-nya kosong dia makan daunan, serangga atau kayu alam. Rupanya kita panggil tidak makan kecewa… Kita-kan tidak maksa tamu, sampai sore tidak ada tamu (memberikan pisang),” ujar ayah tujuh anak pada TAPIAN beberapa waktu lalu.

Belum lagi hadirnya industri-industri raksasa. Kehadiran PT Indorayon Utama sekarang (TPL) pada tahun 1989 di Sosor Ladang, Porsea, Sumatera Utara, yang membuang chilps, potongan-potongan kecil membuang limbah orgono chlorium dan hasil clilirin (C12) dan Natrion Sulfida (na 25) untuk menghasilkan lignin kayu. Limbahnya dibuang ke Sungai Asahan yang muara airnya dari Danau Toba. Demikian juga, proyek-proyek pemerintah seperti PLTA Sigura-gura, Sungai Asahan dan PLTA Renun, Dairi turut memperparah debit air Danau Toba.

Belum lagi kehadiran PT Allegrindo Nusantara (PT AN) yang mencemari Danau Toba dan merusak tanaman petani Simalungun, akibat limbah ternak babi dan itik. Lalu, keberadaan tanaman enceng gondok yang sengaja ditanam warga, berpotensi mengganggu keindahan dan kelestarian Danau Toba. Belum lagi, masalah kerambah di Kabupaten Simalungun, warga Harangaol memilih memelihara ikan dalam kerambah. Padahal kerambah memperburuk kondisi dan keindahan air Danau Toba, karena pemakain pakat ikat yang mengandung kimia. Kerambah begitu banyak, belum termasuk milik investor asing, dari Swedia, yang berjumlah 150.000 kerambah (Kompas; 12 Agustus 2007).

Temuan Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT) mendukung hal itu. Bahwa air di Danau Toba telah terkontaminasi seluas 110.000 hektar tercemar. Demikian juga pendapat Bapedalda, isu pencemaran itu bukan kalimat kosong. "Danau Toba kini terancam pencemaran berat," kata Ir Perdana Ginting Msc, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Bapedalda Sumatera Utara. Tercemar dari limbah rumah tangga, hotel dan restauran. Malah Danau Toba telah dijadikan septic tank oleh hotel-hotel itu.

Temuan ini bermula 13 warga Porsea terkontaminasi gatal-gatal, terinfeksi zat berbahaya, dari limbah pakan ikan. Buntutnya ratusan warga Porsea berunjuk rasa ke kantor DPRD Tobasa. Menanggapi hal itu beberapa waktu lalu di Medan, Minggu (20/1) pemerintah dalam hal ini, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengatakan, akan ikut membenahi tata ruang di wilayah Danau Toba, yang mulai rusak akibat belum adanya koordinasi di wilayah sekitar danau tersebut. Hal ini disampaikan Menteri usai peninjauan pelaksanaan tata ruang Danau Toba.

Penanggulangan

Penanggulangan Danau Toba seperti simalakama, rumit, tidak bisa diatasi dengan sekedar pelestarian air semata. Sebab, selama ini pro kontra Danau Toba tujuan wisata atau Danau Toba sebagai sumber penghidupan masyarakat masih menjadi perdebatan panjang. Jika ia hanya dijual sekedar wisata, bagaimana masyarakat setempat yang bergantung pada Danau Toba. Sebab tetapi terkait erat dengan ekonomi masyarakat di sekitar danau. Daerah urban (pemukiman perkotaan) seperti masyarakat Parapat, Balige, Ajibata, Pangururan, Onan Runggu, Muara, Bakkara, Haranggaol, Tigaras, Nainggolan sebagai besar bergantung pada alam Danau Toba. Namun, jika Danau Toba dibiarkan seperti saat ini, kebangaan orang Batak berlahan akan hilang. Dan bisa jadi menjadi dikavling-kavling menjadi milik pribadi, inilah sebuah dilema.

Sudah banyak lembaga-lembaga Cinta Danau Toba menghimbau agar dilestarikan. Namun, kenyataannya, kerusakan ekosistem danau masih belum tertangani. Pegelaran Pesta Danau Toba yang pada awalnya digalakkan untuk pelestarian dan pariwisata Danau Toba, ternyata tidak berdampak banyak.

Secara simbolik memang sudah banyak usaha yang dibuat untuk Danau Toba. Misalnya, pernah dilakukan penobatan Raja Batak Toba, yang diharapkan bisa mengingatkan masyarakat Batak, agar menjaga alam Danau Toba. Dan pelestarian simbolik melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara berencana kembali menggelar Pesta Danau Toba pada 13 Juni-17 Juni 2008 di Parapat. Diharapkan selain mendukung Visit Indonesia Year 2008, menjadi momen menghimbau masyarakat peduli Danau Toba.

Menurut Bungaran Saragih bahwa pertanian sebenarnya tidak cocok di sekitar Danau Toba, selain tanahnya terjal juga tidak subur. “Saya tidak mengusulkan pertanian di sana sebagai solusi, saya terpaksa menyuruh ahli pertanian berbuat sesuatu di sana. Tetapi pertanian bukan solusi yang terbaik. Saya tahu itu, dan kita jangan terlalu emosional-lah mengenai itu,” ujar mantan Menteri Pertanian di era Abdurahman Wahid dan Megawati. Menanggapi isu tidak masuknya Sumatera Utara menjadi Visit Indonesia Year 2008, ia setuju. “Mengapa kita harus tergantung Jakarta. Sekarang sudah otonomi daerah kan. Yang menjadi masalah sekarang mampukah pemerintah daerah kita memperhatikan ini. Jadi menurut saya untunglah itu dicoret. Kalau orang Batak tidak disentil tidak bergerak dia,” ujarnya menambahkan. Sebab, syarat menjadi tujuaan wisata dari Departemen Pariwisata adalah pemerintah daerah harus mempunyai program jangka panjang menyeluruh terhadap wisata.

Memang masalah wisatawan yang makin merosot ke Danau Toba adalah dilematis. Misalnya saja, masalah insfrakstrur tidak mendukung. Akses dari Medan ke Danau Toba selama ini menjadi kendala utama. Bandara Polonia satu-satunya bandara di Indonesia berada di tengah kota, tidak layak untuk sebuah bandara wisata. Lalu, Kuala Namo yang disiapkan menganti Polonia, tetapi jaraknya ke Danau Toba terlalu jauh. Sedangkan ke bandara Silangit, Siborongborong yang semula diprediksi mempermudah akses ke Danau Toba ternyata tidak dapat disinggahi pesawat besar semisal Boeing. Dulu Seorang pengusaha Rio Tambunan pernah berencana membangun jalur kereta api dari Siantar ke Merek, Situnggaling sekitar 36 km tetapi tidak pernah ada.

Perhimpunan Masyarakat Informasi Tapanuli (PAMITA). Dibentuk berdasarkan kepedulian bersama badan pendiri melihat kurangnya terbangun komunikasi publik dalam membicarakan masalah yang terjadi di masyarakat. Ketika TAPIAN menghubungi Direktur Eksekutif PAMITA Sabam Simatupang, untuk menanyakan pencemaran di Danau Toba ke PAMITA. Namun lembaga ini terkesan memilih diam untuk membeberkan apa yang terjadi di Danau Toba.

Lalu Lembaga TobaDream, lembaga ini baru dibentuk, namun targetnya menanam sekitar satu juta pohon di pinggiran Danau Toba. Namun Lembaga TobaDream, belum teruji, walaupun telah menanam pohon di Kabupaten Samosir pada tanggal 3 Maret 2008 lalu. Belum bisa disebut berhasil. Lalu ada, Lake Toba Ekosistim Managemen (LTEM). Didalamnya terlibat para pejabat Provinsi Sumatera Utara. Walau lembaga ini sudah lama ada, namun tidak membawa perubahan apa-apa melestarikan Danau Toba Danau Toba. Jadi sekarang apakah yang harus dibuat untuk menaggulagi hal ini. Jawabanya adalah bagaimana masyarakat, LSM, organisasi Adat, organisasi Marga, dan pemerintah saling bergandengan tangan. Mengatasinya perlu keseriusan. Memulai dari diri berbuat sekecil apapun, semisal menymbangkan satu pohon untuk ditanam di sekitar Danau Toba. Upaya lain dengan membersihkan eceng gondok dan gulma, dan terutama sumber pencemaran limbah.

Kota Parapat misalnya, adalah daerah yang sangat sempit. Sekarang Parapat tidak indah lagi, sebab di pinggiran Danau Toba, warga memamfaatkan tempat usaha. Yang nota bene limbahnya langsung ke danau. Danau Toba tidak bisa dilihat hanya sebagai bisnis wisata tetapi merupakan penghidupan masyarakat jutaan orang bergantung Danau Toba. Ada warga hidup dari wisata, pertanian, perikanan, kerambah dari danau ini. Memadukan itulah yang sulit.

Misalnya, apa yang dikerjakan Keadilan Perdamaian Keutuhan Ciptaan Kapusin (KPKC Kapusin), di Sumatera Utara. Yang dimotori Pastor Simon OFMCap dengan konsep ekowisata dan ekoreligi. Memadukan wisata dan agama. Mereka menanami hutan seluas 40 hektare milik Paroki Aek Kanopan, di Sikopi-kopi. Hutan yang dikelilingi ini, kini menjadi tempat berlindung berbagai satwa.***

Tidak ada komentar: