oleh Hojot Marluga
Seni sudah saatnya kembali pada esensi yang sebenarnya. Esensi Seni adalah Kemerdekaan. Esensi Kemerdekaan adalah Kemanusiaan. Esensi Seniman adalah Hak-Hak Azasi demi Kemerdekaan. Hal tersebut disimpulkan Todung Mulya Lubis setelah membaca filosofi hidup dan filsafat kreatif Semsar Siahaan (1952-2005).
Siapa itu Semsar Siahaan? Semsar lahir di Medan 11 Juni 1952 dan meninggal di Rumah Sakit Tabanan Bali 25 Februari 2005. Anak kedua dari ibu keturunan India dan bapak Mayjen (purn) Ricardo Siahaan mantan atase militer di Beograd, Yugoslavia. Di sanalah Semsar menimba seni lukis pertama kali.
Setelah itu dilanjutkan belajar seni rupa di San Fransisco Art Institute, Amerika Serikat, 1975. Tahun 1977-1981 belajar seni patung di Institut Teknologi Bandung (ITB) Pada saat kuliah di ITB tahun 1981, pernah membakar karya lukisnya sendiri karena dianggap hanya bersifat suvenir. Ia menggali lubang-lubang kubur dan mengisinya dengan patung-patung mayat di dalam Bienalle Seni Rupa Jakarta IX di Taman Ismail Marzuki Jakarta. dan tahun 1983 menetap di Amsterdam. Di Prancis ia juga mendalami seni lukis di San Francisco Art Institute.
Semsar Siahaan, yang akrab dipanggil Sam, dikenal sebagai perupa yang kritis dan sering melakukan aksi protes. Pengalaman tersebut diolah dalam kesendirian, dipadu dengan etika yang dijunjungnya, melahirkan pengalaman-pengalaman baru, pengalaman yang estetis, pengalaman yang dapat dikomunikasikan.
Dalam pameran tunggalnya 15 Agustus 2004 bertema “ The Shade of Nothern Lights” di Galeri Nasional Indonesia, ia berupaya membagi pengalaman estetik, keteladanan sekaligus bagian tidak terpisahkan dari kehidupan aktivitas sosialnya, dalam bentuk karya seni rupa.
Sepulang dari Kanada, Semsar sejak 1 Januari 2005 menyepi dan tinggal menetap di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 kilometer di utara kota Tabanan, Bali hingga meninggal. Padahal Semsar dulunya berniat tinggal di Pematang Siantar, Sumatera Utara namun tidak jadi. Sebelum meninggal ia berencana membangun gallery di atas tanah 3000 meter yang ia beli, tetapi Tuhan berkehendak lain ia meninggal mendadak karena serangan jantung.
Perupa yang terakhir menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional (2004), itu meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan, Rabu 23 Februari 2005. Jenazahnya disemayamkan di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Kamis 24 Februari 2005.
Untuk mengenangnya seniman pejuang pembebasan itu, beberapa waktu lalu diadakan pameran karya-karyanya bertajuk “Mengenang Semsar” Bertempat di Cemara 6 Galeri, Jalan H.O.S. Cokroaminoto 9-11, Jakarta Pusat. Mulai 22 Mei-15 Juli 2008. Pameran yang dibuka Taufik Kemas suami Megawati Soekarno mantan presiden ke-5. Dan dihadiri ketua Fraksi PDI-Perjuangan Tjahyo Kumolo.
Salah satu karya yang dipajang adalah karyanya berjudul Pizza. Lukisan pizza yang di dalamnya ada potongan-potongan segitiga seperti piza, menggambarkan berbagai fenomena kehidupan saat ini. Di antaranya, penggambaran tentang penjungkirbalikan fakta yang sebenarnya.
Penemu Manubilis
Sejak di Kanada ia menemukan konflik kemanusiaan, dibalut dengan halus, dalam tenunan berhias ornamen indah seperti multikulturalisme. Ia melihat di Kanada kebanyakan rakyatnya, mulai merasakan dampak mengerikan lindasan roda mesin neo kapitalisme global. Di kawasan apartemen bobrok, di kawasan rawan kriminalitas. Semsar menemukan tetangganya psikopat menghajar pacarnya hingga kedua kakinya patah, dan berhasil diselamatkan oleh Semsar.
Kata Manubelis pengabungan kata dari Manusia, Binatang, dan Iblis. Dari sana perjuangannya beralih menjadi perjuangan kemanusiaan yang universalnya, perjuangnya tidak lagi dibatasi oleh tembok negara. Bagi Semsar manusia dimana pun, “a human being”, sama baiknya, terlepas dia itu Indonesia, Timor Leste, Indian, Irak, Israel atau Kanada. Pelanggaran hak azasi manusia adalah pelanggaran hak azasi manusia, menjadi konsennya.
Kenyataan-kenyataan tersebut diatas seharusnya diolah menjadi tuntutan untuk membangkitkan sebuah Solidaritas Global, yang berkewajiban untuk secara bersama-sama menanggalkan kekerasan dan pelanggaran HAM yang sistemik di muka bumi ini, termasuk tentunya di masing-masing negara.
Semsar juga perduli pada kelestarian lingkungan, maka pada tahun 1980-an, dia juga bergabung dengan lembaga Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skepy) yang menentang pembabatan hutan di berbagai wilayah di Indonesia.Mengenang Semsar setelah empat tahun meninggal, memanggil kaum seniman sedunia untuk membangun ikatan kerja sama, kolaborasi antarurban, antarbudaya lokal. Karena esensi dari Seni adalah Kemerdekaan di dalamnya ada kebersamaan, menyongsong Solidaritas Masyarakat Global demi, keadilan kemanusiaan.
A Self Potrait with Black Orchid
The Blue Scream of an Artist
Buruh (3): Semsar’ Self Potrait
Cerita Kami
Confusion
Homage to Cristo’s Mother
Hak Berserikat Kaum Buruh
Kecelakaan Kerja
White Collars Workers
Penghisapan
Pintunya Harapan
The Poet Who Disappeared
Women Workers Between Factory and Prison


Tidak ada komentar:
Posting Komentar