Buku adalah jendela dunia, demikian kata pemeo. Sebuah bangsa hanya akan maju kalau masyarakatnya mati-maian membaca. Kalau boleh mengambil contoh, Eropa maju lantaran membaca. Di sana, setiap desa memiliki perpustakaan.
Jika kebetulan lewat di Jalan Jatiwarin Raya, Pondok Gede, persis di depan Sekolah Tinggi Teknologi Jakarta (STTJ), Pondok Gede, di Jalan Jatiwaringin Raya No 42 Pondok Gede, Jakarta Timur, Anda akan melihat perpustakaan Karo bernama Sora Mido. Sora artinya suaraatau himbauan, sedangkan Mido adalah pahlawan.
Sampai tahun 1984, Sora Mido merupakan perpustakaan pribadi Neken Jamin Sembiring. Baru sejak tahun 1995 perpustakaan ini resmi dibuka untuk umum, bersamaan diterbitkan tabloid Sora Mido oleh Pustaka Sora Mido. Tabloid ini sekaligus media promosi memperkenalkan perpustakaan Sora Mido. Tabloid ini didirikan Neken bersama rekan-rekannya, Simson Ginting, Ceki Tepari, Daiana Notari Ginting.
“Karena kita juga punya tabloid kan? Dari situ orang sudah mau tahu. Malah distribusi Sora Mido ini sangat luas, di mana ada orang Karo di situ ada dia. Ada Sora Mido di Jerman, di Belanda, orang Karo ada di seluruh dunia,” ujar suami Dadep beru Serbakti dan ayah dua orang anak ini.
Kini, perpustakaan Sora Mido menjadi salah satu perpustakaan terlengkap menyimpan buku-buku Karo. Dengan koleksi 3.000 eksemplar, yang terbagi dalam tiga kategori: buku adat, buku agama, dan buku farmasi.
Sekalipun berfungsi sebagai perpustakaan komunitas Karo, namun Sora Mido tidak hanya melayani orang-orang Karo, tapi juga anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan. Terbuka untuk umum. Koleksi buku-buku Sora Mido, walau terbuka untuk umum, tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang.
Pegunjung relatif beragam. Setiap bulan pengunjung sekitar 40 orang. Dan tidak dipungut biaya alias gratis. Syaratnya mudah, jika pengunjung hendak mengcopy, mereka harus membuat dua copy. Satu disumbangkan untuk perpustakaan. Yang dilayani dua orang staf siap setiap hari.
Tak heran peneliti Eropa pernah datang ke perpustakaan Sora Mido. “Ada orang Belanda yang datang untuk memfaatkan buku Sora Mido. Ketika berada di Tanah Karo, staf pemerintah daerah setempat menyarankannya untuk singgah di sini. Dia datang ke Karo untuk meneliti adat Karo. Sementara di kantor bupati sendiri tidak ada buku. Akhirnya disuruh ke Sora Mido,” ujarnya.
Proses pengumpulan
“Jadi harus ada dana sosial yang kita sediakan setiap bulan (untuk perpustakaan). Sekitar dua juta rupiah per bulan. Kalau ada buku baru pasti di beli. Di mana pun harus kita beli. Pada umumnya, buku-buku Karo harus dikoleksi,” ujar mantan penatua di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cililitan, dan mantan dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag), Jakarta ini.
Ditanya tentang minat baca orang-orang Karo, dengan agak pedas dia menjawab: “Kurang! Minat baca dan menulis orang-orang Karo kurang. Pas giliran butuh baru sibuk. Jadi, minat baca orang Karo rata-rata kurang.” ***


1 komentar:
Salam; saya setuju akan pendapat tersebut. Bahawa buku adalh jensela dunia.
Rikson Marbun
Posting Komentar