Rabu, 18 Juni 2008

‘Jaga ma ibana,’ kata Ompung Namartua Sibuanon

oleh Hojot Marluga

Adalah desa Sibatuloting namanya. Sekitar 4,5 km dari Parapat. Desa itu dilingkungan hutan lindung Sibaganding, Kabupaten Simalungun. Dulu, masyarakat menganggap hutan itu angker, karena rimbun dan perawan dihuni ribuan kera dan bermacam satwa. Sekarang tidak lagi, sebagian hutannya sudah gundul. Akibatnya satwa makin jarang terlihat. Mereka lari ke hulu hutan untuk berlindung.

Tak segaja Umar Manik,56 tahun, mengubah Sibatuloting menjadi objek wisata. Awalnya, dia hanya ingin bertani di dalam hutan. Tahun 1984, Umar memasuki kawasan ini, menjadi petani dilakoninya karena terpaksa untuk menyambung hidup. Sebelumnya Umar bekerja sebagai satpam di Hotel Patra Jasa, Parapat. Muncul perubahan dalam manajemen yang menetapkan setiap karyawan harus berpendidikan menimal sekolah menengah atas. Umar hanya sampai kelas III SD. Dia di-PHK dan hanya menerima pasangon tiga bulan saja.

Lama menganggur, tahun 1989, Umar Manik dan istrinya, Maria Banjarnahor, memutuskan menjadi petani. Tetapi, dia tak punya tanah untuk bertani. Lalu dia pergi ke hutan lindung dan bercocok tanam di sana. Ketika panen, ternyata bukan Umar yang memetik hasilnya, melainkan monyet. Saking kesal, dia berniat hendak memukuli monyet-monyet yang menyerbu tanah garapannya. Ketika dia hendak memukul, muncul sosok orangtua yang dianggap sebagai penghuni hutan Sibaganding, namanya Ompung Namartua Sibuanon. “Jaga ma ibana,” ujar Ompung sebagaimana yang diingat Umar. Dia lantas merasa diberikan tanggung jawab untuk memelihara ribuan monyet yang bermukim di hutan itu.
Targestok

Permasalah timbul saat tim Pemda Simalungun menelusuri hutan Sibaganding, dan memergoki Umar Manik di tengah hutan milik negara tersebut. Manik disangka targestok (terlibat PKI) yang lari ke dalam hutan yang jauh dari jalan raya itu. Maklum, saat itu Orde Baru sedang giat-giatnya memburu anggota organisasi terlarang tersebut. Akibatnya, berkali-kali Umar diintrogasi aparat pemerintahan daerah Simalungun. Dan sempat dilarang tinggal di hutan Sibaganding. Tuduhan tidak terbukti. Apalagi, Walhi Sumatera Utara menjelaskan apa yang dikerjakan Umar Manik di hutan Sibaganding, adalah pekerjaan yang mulia, menjaga kelestarian alam hutan Sibaganding dengan menjaga dan memelihara monyet-monyet yang populasinya mulai berkurang.

Pemerintah daerah akhirnya berbalik haluan malahan memberikan bantuan Rp 500.000 per bulan kepada pawang monyet itu untuk biaya makanan binatang yang dipeliharaanya. Namun, uang itu tidak mencukupi. Tapi, bisa dia tambahi dengan uang sumbangan yang diberikan pengunjung ke tempat yang disebutkan sebagai Taman Monyet, sebagaimana tertulis di pintu masuk. Sekarang keadaan keuangannya parah karena jumlah pengunjung yang sudah jauh berkurang. Malah, karena terpaksa, Umar menjual rumah yang dia beli dari penghasilannya sebagai satpam di Hotel Patra Jasa, seharga Rp 16 juta. Sementara untuk menghidupi keluarganya sendiri Umar bekerja serabutan di Parapat.

“Dulu tamu membludak, karena negara kita kabarnya tidak ada ribut. Sekarang, karena ribut, tamu total tidak ada. Aku rindu melihat tamu orang bule. Kalau dulu, tamu paling rendah Malaysia. Pokoknya aku rindu tamu dari luarlah. Kuingat-ingat, dulu paling rendah tamu masuk lima puluh, tujuh puluh per hari,” kenang ayah tujuh anak itu ketika dia ditemui di Jakarta. Umar Manik datang ke Jakarta untuk menerima penghargaan “Pahlawan Lingkungan” yang diberikan oleh Monang Sianipar, pendiri dan pimpinan Toba Dream. Dia juga menerima hadiah uang yang jumlahnya tak berkenan dia ungkapkan. Dan yang tak bisa dia lupakan adalah ketika Pangeran Bernhard dari Belanda, selaku pimpinan World Wildlife Fund, berkunjung ke Sibatuloting dan bersalaman dengannya.

Sangkakala tanduk kerbau

Sekarang, monyet peliharaan Umar sudah beranak pinak dalam jumlah ribuan. Hubungan sang pawang dan binatang kesayangannya dekat sekali. Untuk memanggil gembalaannya itu, Umar membuat sangkakala yang terbuat dari tanduk kerbau jantan. Jika sangkakala ditiup, anjing-anjing kesayangan Umar Manik dengan spontan menggonggong panjang,turut memanggil gerombolan monyet untuk datang. Maka berduyun-duyunlah binatang hutan berdatangan menghampiri Umar Manik. Menerima makanan dari sang pawang, “berterimakasih” dengan cara mereka sendiri dan kembali lagi ke dalam hutan.

Monyet yang menjadi penghuni hutan lindung itu adalah kera, siamang, sibelutung dan siberu. Yang terakhir adalah jenis monyet yang paling brutal kalau terjadi perkelahian. Sebagai pawang, yang sabam hari bergaul dengan monyet-monyetnya, Umar tahu persis jika monyet-monyet itu sedih atau bahagia. Dia dengan baik mengenal kelompok monyet itu berdasarkan jenis. Apabila monyet tidak makan Umar ikut sedih. “Lebih baik aku berpisah dari anak dan istriku daripada harus berpisah dengan monyet-monyetku,” katanya mantap.

“Susah aku kalau pinopparhu (maksudnya monyet-monyetnya) tidak makan. Margaku Manik, pinopparhu itu ya Manik-lah. Untuk melihat monyet, pengujung membeli pisang dari aku. Kalau pisang itu tak cukup, sebagian monyet tak kebagian. Monyet itu kecewa, aku juga kecewa. Bayangkanlah, kadang-kadang tamu beli lima sisir (pisang) monyet yang turun seratus. Kita kan tidak maksa tamu...” cerita pria kelahiran Banda, Pematang Siantar itu dengan logak Batak yang kental.

Umar Manik adalah seorang pria yang periang. Berbicara lancar dan terus terang. Begaimanapun keras hatinya untuk mempertahankan monyet kesayangannya, dia pernah juga sakit hati. Ketika diinterogasi tempo hari dia kena gimbal. Manakala Taman Monyet Sibatuloting terkenal Pemerintah Daerah Simalungun mau merebutnya. Umar bukan hanya seorang pahlawan untuk monyet-monyetnya yang dibelanya, tetapi juga buat tanah Batak yang dia cintai***


monyet di pinggir danau

monyet bercanda

Tidak ada komentar: