Senin, 14 Juli 2008

Paradigma Pendidikan Orang Batak Berubah?

Oleh HOTMAN JONATHAN LUMBANGAOL

Orang Batak dikenal mempunyai sistim pendidikan yang bagus. Ini terbaca dari semacam pepatah, “Sian jabu baru tu halaman, sian halaman tu balian” (Dari rumah baru ke halaman, dari halaman ke sawah atau lapangan kerja). Tetapi, itu dulu. Suatu keunggulan orangBatak yang kelihatannya suduah hilang. Paradigma pendidikan di Tanah Batak sudah berubah. Dan, keunggulan yang pernah dinikmati Tanah Batak itu tak lepas dari jasa Ingwer Ludwig Nommensen (1834-1918).

Nommensen memasuki Tanah Batak dari ranah antropologi dan sosiologi. Ia mengajarkan bercocok tanam lebih dulu, sebelum memberitakan Injil. Dan jangan dilupakan, ketika epidemi sampar menyerang Silindung, ia tampil menjadi penyelamat. Akhirnya, pintu terbuka untuknya, dan Nommensen diterima masyarakat, khususnya Silindung. Dialah semacam ”Nabi” yang datang untuk mempelopori perubahan peradaban di Tanah Batak. Karena itu pula dia dianggap sebagai Apostel Batak. Di bidang pendidikan peranannya besar sekali.

Salah satu pandangan hidup orang Batak yang berbunyi “Anakhon Hi Do Hamoraon Diahu” telah memperkuat motivasi masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin. Dalam konteks filosofi Batak, hamoraon adalah kekayaan materi, gabe, mamora, sangap. Artinya ada anak, ada harta, baru terpandang. Banyak anak adalah tujuan, sehingga ada perumpamaan yang berkata ”maranak sapuluh pitu marboru sampuluh onom (tujuh belas putra enam belas putri). Itulah yang disebut filosofi Tolu H, hagabeon, hamoraon, hasangapon. Sayangnya, dari ketiga dasar filosofi itu hamoraon telah menjadi tujuan utama dan menomorduakan yang lain. Sehingga bagaimana menjadi kaya terlalu menjadi titik berat dalam memandang hidup. Maka, terjadilah titik balik, dan segala cara akan ditempuh untuk mencapai hamoraon.

Zending datang ke Tanah Batak tidak hanya membawa gereja, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang baik. Sekolah-sekolah zending melahirkan manusia-manusia pilihan. Lulusan sekolah tersebut banyak yang menjadi orang penting dalam proses kebangkitan bangsa Indonesia. Mereka menampati posisi yang baik di bidang politik dan pemerintahan, begitu juga di tengah masyarakat luas. Mereka menjadi model. Sehingga filosofi orang Batak menemukan muaranya, bahwa pendidikan akan menjadikan anak-anak mereka sebagai manusia, yang kaya dan bermartabat.

Lahirnya Republik Indonesia rupanya telah turut menebarkan ilusi tentang negara yang bisa melaksanakan apa saja, termasuk di bidang pendidikan. Muncullah sistem pendidikan yang bersifat massal dan nasional. Terjadilah gesekan yang berdampak buruk terhadap output pendidikan yang sudah menjadi idola selama ini di Tanah Batak. (Baca "Kalau Batak Tak Menerima Kenyataan Pahit Ini, Makin Mundurlah Mereka").

Motivasi untuk memperoleh pendidikan yang baik tidak diragukan lagi di kalangan masyarakat Batak. Masalahnya adalah mereka yang sudah terdidik dengan baik jarang yang mau kembali untuk membangun kampung halaman yang masih miskin. Tetapi, masalahnya belum tentu semua bersepakat untuk mengatakan Tanah Batak miskin. Dari yang tidak setuju itu termasuk Bistok Simbolon, pejabat di Sekretariat Kabinet, yang sudah berpuluh tahun menetap di Jakarta.

Kuburan nenek-moyang

Menurut Simbolan, Tapanuli sudah tidak menyandang predikat miskin lagi. Terlihat dari APBD Tapanuli Utara tahun 1995 saja yang mencapai Rp 7,5 miliar. Setelah otonomi daerah, Tapanuli Utara yang dibagi dalam empat kabupaten (Kabupaten, Tapanuli Utara, Humbang-Hasundutan, Toba Samosir, Samosir) menerima anggaran sebesar Rp 1,3 triliun. ”Tahun 1970-an Tapanuli memang dalam peta kemiskinan, tapi sekarang sudah tidak,” katanya.

Bistok melihat motivasi untuk memperoleh pendidikan yang baik tetap tinggi di kalangan orang Batak. Tolu-H menjadi motivator. Dan itu baik. Yang disayangkan Bistok adalah bahwa orang-orang Batak hanya mengejar pendidikan sampai tingkat sarjana. ”Orangtua mendorong anak mereka bersekolah hanya untuk menjadi kaya, bukan menjadi ilmuwan.”

Menjadi sarjana dan kaya, tapi tidak berkenan pulang untuk membangun bona pasogit. Itulah yang jadi masalah. Berbagai upaya untuk mengatasi hal ini belakangan terlihat muncul, antara lain dengan mendirikan pendidikan tinggi, dengan harapan lulusannya segera bisa mempraktekkan kepintaran mereka di kampung mereka sendiri. Karena selama ini Tanah Batak telah mengalami brain drain atau terkurasnya orang-orang pandai Batak oleh dunia luar. Sementara kekayaan yang mereka peroleh dirantau hanya kembali dalam bentuk patung untuk menghias kuburan nenek-moyang di kampung halaman.

Mantan Menteri Perdangangan, Letjen (purn) Luhut Panjaitan, membangun Politeknik Informatika DEL, yang belokasi di Jalan Sisingamangaraja, Sitoluama, Laguboti, Kabupaten. Toba Samosir. Visinya, menuju masa depan teknologi informatika yang mengintegrasikan dunia pendidikan dengan kebutuhan akan tenaga profesional informatika, yang mampu bersaing secara global. Misinya, mampu mencetak dan membina sumber daya manusia di bidang industri teknologi informatika yang mempunyai kemampuan memimpin, penuh kreativitas, berdisiplin tinggi, dan mampu memberikan solusi dengan memanfaatkan teknologi informatika. Menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dengan dukungan tenaga pengajar yang ahli dan profesional.

Kelak, diharapkan tahun pertama minimal 90% alumni Del memperoleh lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Prosentase kelulusan yang tepat waktu minimal 100%. Nilai TOEFL alumni minimal mencapai nilai 515. Lulusan mempunyai sertifikat yang berlaku secara internasional, misalnya sertifikat Cisco, Microsoft, Oracle, NIIT, dan lain-lain.

Untuk membangkitkan Tanah Batak pernah muncul beberapa gagasan, antara lain Maduma dan Martabe. Martabe singkatan dari Marsipatur Hutana Be, kalau diterjemahkan secara bebas “membangun kampung masing masing,” yang populer tahun 1980-an. Martabe menggabungkan dua bahasa, Angkola-Mandailing dan Batak Toba.

Maduma, yang dipelesetkan jadi “Mangula Dungi Mangan (bekerja baru makan)” dirintis oleh Ir Humuntar Lumban Gaol. Gerakan ini mendapat bantuan dari Orde Baru waktu itu. Maduma banyak membantu masyarakat Bona Pasogit, dengan pemberian bibit tanaman di Sileang, bantuan traktor di Dolok Sanggul, dan yang lain. Maduma juga mengirimkan pemuda-pemuda Batak lulusan pertanian UGM, IPB, untuk memberikan penyuluhan pada petani. Tetapi, gagal. Para petani menolak kedatangan mereka. Namun, gerakan ini berhasil membangun jalan-jalan provinsi dan jembatan di Tapanuli. Juga kapal ferry di Sibolga. Lalu memberikan bibit kopi sigarar utang di Onan Ganjang, Kabupaten Humbang-Hasundutan.

Konon, Raja Inal Siregar, ketika menjadi Gubernur Sumatera Utara meminta persetujuan Humuntar agar dia yang meneruskan proyek Maduma dengan nama Martabe. Gerakan ini berawal dari kongkow-kongkow masyarakat Batak di Bandung, Desember 1986. Ketika itu, Raja Inal ini adalah Panglima Kodam Siliwangi.

Orang Batak juga tidak lupa pada obsesi KM Sinaga yang ingin mendirikan Universtas Nehemia, dan membantu sekolah-sekolah yang hampir rubuh. Banyak orang yang beranggapan perlunya didirikan yayasan dalam rangka membantu Tanah Batak. Cuma KM Sinaga yang berpendirian lain. Yang diperlukan, menurut dia, adalah badan yang operasional. Dia mengusulkan dibentuknya badan usaha yang bisa menyalurkan kredit lunak kepada pengusaha menengah dan kecil. Maka, berdirilah PT Nusantara Bona Pasogit, yang memiliki 33 cabang, dan sampai sekarang terus mengalirkan kredit.

Dilakukan sejak bayi

Menurut Prof Dr Tunggul K Sirait, mantan Rektor Universitas Kristen Indonesia, “Tanggung-jawab gereja terhadap pendidikan sudah berkurang. HKBP sendiri saat ini sudah berkurang kontribusinya pada pendidikan, apalagi pendidikan dasar dan menegah. Ada memang Universitas HKBP, tetapi pendidikan menengah dan dasar dilupakan HKBP. Dulu pendidikan di tanah Batak maju. Pendidikan di Tapanuli selalu lebih unggul. Mungkin sekarang masyarakat tidak lagi peduli kepada masalah pendidikan dasar. Masyarakat tidak memberikan kepeduliannya lagi.”

Ada sisi yang ingin diingatkan Tunggul, yaitu bahwa semangat belajar orang sekarang berbeda dengan semangat pemuda masa lalu. “Bedanya, dulu orang kita bersekolah dengan cita-cita yang tinggi. Sekarang ini orientasi orang berpendidikan tinggi berbeda. Dulu orang bersekolah memikirkan tanggung jawab pada negara, ada nasionalisme. Sekarang berbeda.”

Ditanya, mengapa orang Batak dulu dikatakan pintar. Ia menjawab, “Kesan itu muncul karena banyak orang Batak yang menjadi guru. Tetapi, setelah kesejahteraan guru makin merosot, maka prosfesi guru tidak lagi dihormati oleh orang Batak. Kalau dulu menjadi guru adalah kebanggaan, sekarang tidak lagi. Dulu, banyak yang mau menjadi guru, karena dia adalah pilihan mulia.”

“Sian jabu baru tu halaman, sian halaman tu balian.” Bagaimana pepatah ini berlangsung secara operasional? Dengan jerih-payah, penyerahan diri total. Dan, inilah yang dilakukan Tiara Siahaan, 92 tahun, dalam, mendidik anak-anaknya sehingga mereka menjadi mutiara.

“Kita mesti bisa kendalikan anak-anak. Tetapi, jangan keras. Dengan cara yang mereka mengerti, dan itu harus sudah dilakukan sejak bayi. Delapan anak saya, enam laki-laki dan dua perempuan. Saya mendidik anak-anak dengan suami saya yang guru. Saya akui banyak pengaruh pendidikan dan cara mendidik kami karena meniru kedisiplinan Belanda. Memang kita tidak setuju Belanda, karena menjajah kita. Tetapi, kita banyak terpengaruh pendidikan Belanda. Soal pengajaran itu adalah soal disiplin,” urai ibu yang antara melahirkan dan membesarkan Marsilam Simanjuntak, yang pernah duduk sebagai Menteri Sekretariat Negara, Jaksa Agung dan Menteri Hukum dan Hak-Hak Asasi Manusia.

“Jadi, 95% dari hidup saya adalah mendidikan anak. Walau bapak guru, tetapi yang langsung tiap hari mendidik adalah saya,” katanya pula.

Yang kurang, katanya, adalah pendidikan keluarga. ”Si ibu kerja, si bapak kerja. Anak tinggal di rumah sama pembantu. Orangtua bekerja dua-duanya. Sebenarnya, kalau dicukup-cukupkan akan cukup. Mestinya, pendapatan keluarga harus sejajar dengan pengeluaran keluarga. Orang sekarang lebih besar pasak daripada tiang,” ucap sang guru.

Ibu Siahaan ingin mengatakan bahwa sebaik-baiknya mutu pendidikan di sekolah, pendidikan di dalam keluarga punya peranan penting, terutama dalam membentuk karakter. Konsep pendidikan untuk mencapai hamoraon mungkin perlu dipertanyakan. Sebab tujuan hidup bukan hanya kemakmuran harta, tetapi juga sikap moral pada masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.*** Hotman J. Lumbangaol

Tidak ada komentar: