Budaya
Dekade 20-an hingga 80-an, opera Batak adalah tontonan menarik di Tanah Batak, dipertontonkan dalam bentuk teater, menyajikan cerita sandiwara, diselingi lagu, tarian dan komedi. Masa itu, ada banyak group opera, diantaranya, Serada, Rompemas, Seribudi, Roos, Ropeda, Serbungas, Roserda, Sermindo dan Serindo. Yang lama bercokong adalah opera Serindo.
Kelompok opera Serindo berdiri 1928, dipelopori Tilhang Oberlin Gultom. Namun, beberapa kali berganti baju. Tahun 1929 Serindo menjadi Batak Sitamiang, kemudian berganti menjadi Tilhang Opera Batak (TOB) Tahun 1933. Tetapi masa Penjajahan Jepang TOB mengubah nama kembali menjadi Tilhang Toeel Gezalcap (TTG). Gun Seikanbu Jepang membuat opera ini mati suri.
Tahun 1969, opera yang pernah menancapkan taringnya adalah opera Arga Do Bona Ni Pinasa disingkat dengan Arbonansa. Arbonansa berbeda dengan opera Batak pada umumnya. Bedanya, semua dialog dinyanyikan.
Opera Arbonansa yang dipelopori Bonar Gultom. Pria kelahiran di Siborongborong, 30 Juni 1934 ini telah banyak mengarang banyak opera. Diantaranya adalah, Parsorion ni Parmitu, Tahun 1970. 1972. Nostalgia Masa Hasiswa (Opera Komedi) 1979. Tumba Singamangara XII (Opera Sejarah) 1980. Si Boru Tudosan (Opera Budaya Batak) 1989. Sedangkan opera Natal ia membuat opera “Kembali ke Betlehem” dan “Putih dan Hitam.” Kasih Paling Agung (Opera Paskah) 1982. Lilin-lilin Perdamaian (Opera Natal) 1983.
Opera Arbonansa menceritakan seorang pemuda yang bosan akan lingkungannya dipinggiran Danau Toba. Alam yang agung tersebut tidak memberikan kedamaian dan keteduhan jiwa sang pemuda. Akhirnya, sang pemuda pergi melanglang-buana ke Eropa, ingin mencari sesuatu yang indah. Nama pemuda itu adalah Gorga.
Satu waktu, si Gorga pulang di sambut dengan Gondang Batak. Semua penduduk manortor menyambutnya. Ia menangis menyanyikan permohonan-nya kepada orangtuanya, itulah yang diperankan di tengah pentas.
“Amang dohot Dainang nanihaholongan marpamuati marohamuna (Ayah dan Ibu, mohon ampunilah saya yang dulu yang berbuat yang salah, sekarang sudah kembali).”Si Gorga ternyata sudah menikah diperantauan, dan tidak jadi menikah dengan paribannya.
Lalu, pada si Marlinang, pariban si Gorga, ia harus minta maaf, itu diperankan diatas pentas. Pemain-nya berjubel, 150 orang dengan pentas kira-kira 40 meter kali 20 meter. Kala itu gedung olahraga Medan, seperlima gedung dijadikan pentas. Di pentas dipertontonkan orang-orang profesi mardoton (menankap ikan dengan jala), partonun (penenun ulos), mambau bayon (mengayan tikar). Dan setiap pertunjukkan waktunya selalu on time. Ada tidak ada penonton tepat pada jam pertunjukkan tetap akan mulai.
“Ide itu datang dari opera klasik di Eropa sana. Kalau opera Serindo tutup layar dan di situ diperdengarkan nyanyian atau lelucon. Opera Arbonansa sekali buka dan sekali tutup, jadi non-stop. Orang akan berganti-ganti, tidak ada istirahat. Kalau opera Serindo tutup layar dan di situ diperdengarkan nyanyian atau lelucon. Kalau opera Arbonansa sekali buka dan sekali tutup—jadi non-stop jadi orang akan berganti-ganti, tidak ada istilah istirahat.” Kata Bonar Gultom pada TAPIAN.
“Jadi disinilah perbedaan dengan opera Tilhang Gultom. Jadi, nyanyianya adalah mengungkapkan nyanyian cerita. Jadi bukan antara adegan antara adegan dengan adegan. Semua dinyanyikan. “Opera drama sebenarnya itu adalah bukan diomongkan tetapi dinyanyikan,” mengawali perbincangan dengan TAPIAN.
Prestasinya berjibun. Tahun 1991, Bonar mengantar Kontingen Paduan Suara Indonesia dalam konser paduan suara internasional di Amerika Serikat. Ia pernah menerima penghargaan, tahun 1975, dari pangeran Bernard di Istana Kerjaan Belanda Soesdijk?. Tahun 1998 menerima penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara atas lagu ciptaanya “Marsipature Hutanabe.” Dan Tahun 2003 Museum Rekor Indonesia memberikan penghargaan padanya karena menyutradarai pementasan Opera Arga Do Bona Ni Pinasa pada Pesta Rakyat Danau Toba di Kota Parapat sebagai opera yang melibatkan pemain terbanyak 232 orang. Hojot Marluga***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar