Senin, 14 Juli 2008

Ir. Humuntar Lumban Gaol

Riwayat Hidup

Lahir Tapanuli, 08 Januari 1938

Agama : Kristen Protestan

Alamat: Jalan Taman Duta II UF 23, Pondok Indah Jakarta Selatan

Nama Orang Tua: Lodewik Lumban Gaol

Status: Berkeluarga dengan enam anak

Nama Istri : Mari Siregar

Lahir 9 Mei 1943

Nama Anak: (1) Eva Natalie Lumban Gaol, DBA

(lahir 19 Desember 1967)

(2) Febrian Lumban Gaol, SE. (lahir 24 Pebruari 1969) (3) Daniel Lumban Gaol, SE (lahir 11 Pebruari 1970) (4) Henry Lumba Gaol SE (lahir 26 mei 1971) (5) Ir Roberto Lumban Gaol SE (lahir 24 November 1974) (6) Ir Rosari Magdalena Lumban Gaol, S.H (lahir 13 Maret 1979)

Pekerjaan : Pensiunan Pegawai Negeri, NIP. 060031410

Pangkat: Pembina Utama Muda/IV E

Pendidikan

A. Sekolah SD

Tahun 1951 Tahun 1954 Tamat SMP

Tahun 1957 Tamat SMA

Tahun 1964 Tamat Sarjana Pertanian, dari UGM

  1. Lain-lain

Seminar on Agricultural Policy di USA selama 2 bulan mendapat Sertifikat Tahun 1971

Study of the English Languenge di Georgetown, University USA, 12 s/d 30 Juli 1971

Konferensi Pangan Dunia (World Food Conference) di Roma, Tahun 1973

Regional Seminar for Asia Agricultural Credit for Small Farmers di Bangkok, Tanggal 7 Oktober 1974 s/d 17 Oktober 1974

Konferensi Pangan Dunia di Roma, Tahun 1975

Menghadiri Undangan dari Cotton Council Internasional dalam rangka Fact Fiding di USA, tanggal 31 Agustus 1976

Studi Pengembangan Holtikultura dan Pemasarannya di Thailand, Hongkong dan Sinapura, Tahun 1986

Seminar on Dairying a Tool for Rural Development oleh FAO di Denmark, tanggal 21 September s/d Oktober 1986

Konferensi Nasional dan Internasional yang Diselenggarakan Dalam Negeri

II Pekerjaan:

  1. Di Dunia Usaha
  1. Direktur Utama PT Gerbang Wida Nusantara
  2. Presiden Komisaris PT Saferto Adhimanta
  3. Komisaris PT Foresta Taranstek

B. Di Pemerintahan

  1. Staff Produksi BPU, Perusahan Perkebunan Dwikora, Sumatera Barat. April 1965-Juni 1966
  2. Pemimpin Proyek Pemasaran BPU Perusahaan Perkebunan Dwikora Sumatera Barat. Juli 1966- Mei 1968
  3. Kepala Sub. Bagian Penelitian dan Analisa Perkembangan dan Penggunaan Produksi Nasional dan diperbantukan SPRI Menteri Keuangan, Departemen Keuangan Juni 1970
  4. Sebagai Officials Masalah-Masalah BIMAS, Pengadaan Beras, Tim PL- 480 oleh Menteri Keuangan 27 Pebruari 1970
  5. Kepala Bagian Penelitian dan Counterpant pada Biro Perencanaan, Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Juli 1972
  6. Kepala bagian Penelitian dan Konterpan pada Biro Perencanaan dan Penelitian , Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Oktober 1974
  7. Kepala Bagian Evaluasi Teknis Ekonomis Sekretaris Direktorat Jenderal Moniter, Departemen Keuangan Oktober 1974
  8. Direktur Urusan Pangan dan Penerimaan Bukan Pajak, Direktorat Jenderal Monitor Dalam Negeri, Departemen Keuangan 29 Agustus 1978
  9. Asisten III Menko Ekuin dan Pengawasan Pengawasan Bidang Produksi, Distribusi dan Kependudukkan Maret 1984
  10. Diperbantukan Sebagai Staff Ahli Kepada Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan Februari 1989
  11. Inpektur Jenderal Pembangunan Bidang Pembanguan Desa Tahun 1994-1998
  12. Pesiun Tanggal 8 Januari 1998

  1. Di Kegiatan Sosial
  1. Anggota Koppri

PENGALAMAN ORGANISASI

  1. Kemahasiswaan

Sebagai Anggota GMKI

Sebagai Anggota GMNI

  1. Dunia Usaha
  1. Ketua Konpartemen Pertanian KADIN Indonesia
  2. Wakil Ketua Umum (Gabungan Asosiasi Perusahaan Pegerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA)
  3. Ketua Presidium Masyarakat Mekanisasi dan Agroindutri (MMAI)
  4. Deputy Chairman Japan Industri Committee
  5. Dewan Penasehat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI)
  6. Dewan Penasehat Assosiasi Perusahaan alat dan Mesin Pertaniaan Indonesia (ALSINTANI) Dewan Penasehat Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI)
  7. Ketua Assosiasi Industri Rekondisi Mesin dan Peralatan Pertanian Indonesia (AIRMEPI)

G.Sosial Kemasyarakatan

20. Ketua HKTI (Himpuanan Kerukunan Tani Indonesia)

21. Ketua Komisi Keuangan dan Usaha di UKI (Yayasan UKI)

22. Ketua YPTI (Yayasan Pengembangan Tehnologi Indonesia)

IV JABATAN LAINNYA

1. Ketua Badan Pengawas Badan Pembangunan Gedung Bulog

2. Ketua Badan Pengawas Proyek Pembangunan Proyek Pergudangan di Sunter

3. Ketua Pengawas Pembangunan dan Pengelolahan Proyek Pergudangan Pemerintah di Cakung

4. Sekretaris Proyek Pergudangan Bulog

5. Ketua Pengawas Pergudangan di Medan

6. Ketua dan Pengawas Sekretaris Proyek Pembangunan Pergudangan Garam Stock Nasioanal

7. Ketua Direksi Pelaksanaan Proyek Pembangunan Perkantoran (Rental Office pada Proyek Pergudangan Pemerintah Cakung tahap II

8. Ketua Direksi Proyek Pergudangan Lantai Jemur dan KIOS (GLK-KUD)

9. Ketua Direksi Budi Daya Ikan dan Udang

10. Ketua Direksi Proyek Pengembangan Koperasi di Bidang Pool Bis Perusahaan pengangkutan Jakarta.

11. Ketua Direksi Pelaksanaan Proyek Pengembangan Koperasi Peternakan

12. Ketua Pelaksana Proyek Bis Kota

13. Ketua Tim Pembina dan Pengembangan KUD Karet

14. Ketua Penelitian Subsidi Administrasi dan Investasi Unit Desa Bank Rakyat Indonesia untuk Program BIMAS

15. Anggota Komisi Pengendalian dan Pengawasan Sarana Lepas Panen Bagi PUSKUD/KUD

16.Anggota Panitia Pengarahan untuk Pengkajian Masalah Pelaksanaan Pembangunan di Indonesia

17. Anggota Tim Peneliti Harga Pokok dan Harga Penyerahan Benih yang Berasal dari Penangkalan Perum Sang Hyang Seri dan PT Tani

18. Ketua Penelitian dan Tim Harga Penyerahan Pestisida yang Berskala dari produksi formusasi dari dalam negeri maupun Imfor

19. Ketua Penelitian penyelesaian Tunggakan Kredit BIMAS Risk Sharing dan Puso

20. Ketua Penelitian Harga Bahan Pokok Eks Produksi PN Garam dan Eks Produksi Garam Rakyat

21. Ketua Tim Negoisasi untuk Penilaian Harga Penggilingan pada dalam rangka mengambil alih perusahaan pada pabrik pengilingan padi kasus kredit macet

22. Ketua Merangkap anggota Tim Penelitian Stock Biji Gandum dan Tepung Terigu dalam Proses pada Pabrik Pengilingan Biji Jangung Dalam Negeri

23. Ketua Merangkap Anggota Tim Penelitian Harga Pokok Benang Tenun Eks Produksi Patal-Patal Dalam negeri

24. Sekretaris Merangkap Anggota Tim Penelitian Pengunaan Anggaran Kredit Bulog

25. Anggota Tim Penasehat dan Penyelesain Utang PT Mantrust dan Anak Perusahannya

26. Anggota Tim Teknis Subsidi Pemerintah

27. Anggota Tim Penilai Pengunaan Bantuan PL 480 dari Amerika Serikat

28 Anggata Tim Penilai Pengunaan Bantuan Luar Negeri Bersubsidi

29. Anggota Tim Negoisasi Pengelolahan Penawaran Pembangunan Proyek Gedung Kantor BULOG

30. Ketua Merangkap Anggota Tim Penunjukan dan Badan Pengawasan Pembangunan Proyek Pembangunan Kantor BULOG

31.Ketua Peneliti Pembangunan Gudang Beras BULOG

32. Anggota Tim Rekonsiliasi antara Pihak Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat dalam Hubungan Gudang Beras BULOG

33. Anggota Forum Pangan

34. Wakil Ketua Komputerisasi Keuangan BULOG

35. Ketua Merangkap Anggota Tim Penelitian Harga Pokok dan Harga Pupuk Urea Eks Produksi PT Pusri PT Pupuk Kujang dan Pupuk TSP EKS Produksi PT Petro Kimia Gersik

36.Ketua Group Kerja Tim Koordinator Peningkatan Pengembalian Kredit Program Massal (Inpres Nomor 10 tahun 1981)

37. Anggota Tim Pengendalian Usaha Perikanan KUD di Departemen Perdanganggan dan Koperasi

38. Ketua Tim Stock Nasional Garam

39. Ketua Tim Stock Nasional Cenggkeh

40. Anggota Dewan Komisaris Perum Pengembangan Keuangan Koperasi (Perum PKK)

41. Anggota Komisaris PT (Persero) Inshutani-II

42. Ketua Kelompok Kerja Tenaga Kerja

43. Ketua Tim Teknis Pembinaan dan Pengembangan Usaha KUD

44. Ketua Tim Koordinator Penyelidikan Kredit Koperasi KUD

45. Pengarahan pada Proyek Koordinator Perumusan dan Pelaksanaan Pembangunan di Bidang Pertanian

46. Anggota Forum Koordinasi BIMAS

47. Anggota Pengendalian Operasi Khusus Terpadu Maduma

48. Anggota Forum Koordinator Peralatan Pertanian Pra dan Paska Panen

V. Tanda-Tanda Penghargaan

1. Bintang Jasa Utama

2. Satylancana Karya Satya XX Tahun

3. Piagam Penghargaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia

Wawancara dengan Tim Redaksi “Tokoh Batak”

Sesuai dengan bidang Bapak di bidang pertanian, walaupun juga bersinggungan dengan politik, contohnya bapak pernah menjadi jurkam Golkar. Selama Bapak mengamati pangan kita, yang sekarang itu yang dianggap kondisi kritis itu. Nah, menurut bapak yang paling kritis itu sekarang apa yang dulu?

Sekarang ini. Kami kan sudah sempat berhasil membuat swasembada pangan pada tahun 1984. Dan kita bisa surplus pada tahun 1984 (Surplus beras), sehingga pak Harto mendapat penghargaan dari Good Organisasion FAO. kita dapat itu waktu itu, itu dulu kerjaan-kerjaan kita waktu dulu (Orde Baru), karena memang konsentrasi pemikiran-pemikiran pemerintah waktu itu ada terhadap kemajuan produksi masyarakat tani. Sekarang ini pemerintah belakangan bergeser fokus tidak lagi pada pertanian, mulai masuk pada industri manufacture—karena sudah mengarah pada manufacture, maka bergentayanganlah di situ para konglomerat-konglomerat Jadi lupalah si petani, dia tinggal mancul aja di kampung sana, nggak ada lagi orang perhatikan mereka, lebih enak di berbicara dengan konglomerat. Sekarang ini zamannya reformasi, di zaman reformasi apalagi. Banyak orang hanya bicara politik saja, politik, kemudian mengatakan demokrasi-demokrasi, demokrasi menjadi demontrasi jadinya.

Sembarangan ngomong kebamblasan, tidak ada yang memikirkan pembangunan, bangun jalan, jalan ke daerah-daerah semuanya hampir berlobang-lobang, jembatan longsor. Karena apa, sudah tidak ada lagi yang memperhatikan pembangunan di negeri ini. Kalau orang bicara politik, maka laiknya ia berbicara kekuasaan. Golnya ke situ, tidak ada orang politik yang tidak memikirkan kekuasaan. Kenapa, karena orang politik itu mengatakan dia punya konsep, sangat ideal mengenai itu melaksanakan itu jika ia di puncak kekuasaan. Kalau dia di bawah dia punya pengikut. Kalau saya mengatakan nunut. Jadi saya lihat ada pengunjingan terhadap impor beras, ada yang pro ada yang kontra, di sisi lain ada pikiran-pikiran yang tidak sehat barang kali, katakanlah curiga terhadap SARA. Ada itu yang menghimpun dana dalam rangka 2009 dan segala macam. Para politisi mulai bergonjang-gonjing itu. Maka karena itu, saya mengajak teman-teman untuk membuat “Dewan Beras”.

Dari kalangan apa saja?

(Jwb)Ada dari kalangan politisi, ada pemerintah, ada pakar-pakar, kemudian ada dari petani. Kita himpun bersama, kita sudah canangkan itu dua bulan yang lalu itu dengan Pak Agung Laksono (Ketua DPR), saya katakan ini masalah rakyat. Kesulitan masalah rakyat, di mana sekarang ia pertanyakan besok makan nggak? Saya bilang kalau rakyat tidak makan tidak ada rakyat bapak, kalau tidak ada rakyat siapa yang milih, tidak ada lagi yang milih.

Jadi karena sekarang ini rakyat. Maka badan ini kita dirikan independen, nggak ada SK presiden, SK menteri. Sekarang apa yang perlu untuk masyarakat itu, saya bilang Anda canangkan saja, dicanangkan sama dia. Maka kita buat beliau Dewan Pembina (Agung Laksono-red) masalah beras itu. mungkin akhir bulan ini kita akan menentukan pengurusnya siapa-siapa, baru setelah itu kita bicarakan dengan presiden lalu ingin kita utarakan apa yang ada dalam pemikiran kita. Kita membutuhkan police dari presiden untuk menentukan sikap, agar aparatur pembangunan itu berjalan. Jadi, di sini nanti kita akan jelaskan konsepnya bagaimana!

Lalu banyak teman-teman mengatakan, berani benar pak Humuntar mengumpulkan orang-orang yang pro dan kontra. Saya bilang, biarlah kita berantam satu forum. Boleh kita saling maki-makian di sini, tapi keluar dari sini kita satu pendapat. Itulah yang kita tawarkan kepada pemerintah. Problemnya yang terjadi sekarang semua orang ngomong, semua bicara. Yang tidak bisa bicara, bicara. Sekarang bicara ketidakberesan pemerintah. Semua orang bicara. Saya bilang noway , you harus stop, stop berbicara. Lalu dibilang kenapa pak gaol? Saya bilang yang kalian bicarakan itu tentang beras, rakyat itu bingung, yang kalian bicarakan kan beras. Kalau nanti satu ketika mereka merasa (rakyat) wah, merasa semua orang-orang pintar menghancurkan kita nggak usah kita lagi tanam padi.


Kalau pemerintah kembali mengimpor beras bagimana itu Pendapat Bapak?

Begini, pendapat saya pertama, tidak perlu dipaksakan. Karena saat ini kita lagi panen, panen raya namanya saya pikir ini satu pemikiran sangat bertentangan dengan situasinya. Lalu bagaimana itu, kalaupun sekarang sudah diberikan izin, menurut saya simpan saja dulu diluar. Nanti bulan Juli kalau dibutuhkan baru dibawah, hanya tambah ongkos gudangnya saja, tapi jangan beli sekarang dengan mahal, sehingga bulan Juli nanti mahal sekali harga beras.

Jadi dengan adanya Dewan Beras ini kita nanti yang menentukan itu. go time to say impor, go time to say impor stop, karena kita memperkirakan tidak perlu nanti lagi mengimpor. Dan, kita nanti meminta pada Bapak Presiden SBY supaya diakui sebagai badan independen, yang bisa memberikan pikirannya kepada Menteri Perdangangan, Menteri Pertanian, dan Menteri Perindustrian. Misalnya, saya sekarang mau impor beras US$ 150 per ton. Tidak ada yang mengawasi. Kemudian sampai di sini (Indonesia) naik harga. Tahu-tahu di sana US$ 130 per ton, jadi kalau ada yang kontrol kita bisa bilang you kemahalan. Ya pak karena Golkar di kasih sekian, you stop itu semua, stop nggak ada itu.

Jadi lembaga yang Anda rintis itu sudah terbentuk, atau nanti nggak akan ada lagi investigasi DPR ke Vietnam?

Jadi begini, tugas DPR adalah membuat Undang-undang, itu produksinya. Bukan tugas DPR menginvestigasi. Dia itu legislatif dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Legislatif. Sekarang, di mana lagi perbedaan DPR dan eksekutif. Nah, kalau ini bisa menjembatani eksekutif dan legislatif maka tentunya kita harus menghadap Komisi IV, “Bapak-bapak ini adalah wakil rakyat, kami ini datang dari rakyat, bapak membicarakan ini maka kami bisa jelaskan”. Begitu. Jadi, di tempat kita ini nanti ada Assosiasi penggilingan padi, Assosiasi HKTI, Assosiasi petani teladan, Assosiasi produksi, produsen pupuk, dan Assosiasi penyalur pupuk, kemudiaan Assosiasi penghasil benih, Assosiasi pedagang.

Jadi kita semua bisa bicara. Kemudian kenapa ia terpikir seperti begini pak Puspoyo (Kepala Bulog-red) itu memimpin seperti itu. Dipanggil semua yang bergerak di bidang pupuk oke, benih oke, masalah irigasi oke, semuanya kita di sini kita ngomong. Misalnya, Kalau kita nanti mulai nanam padi katakanlah bulan September, sekarang kita berada di bulang Agustus, datang pertama produsen-produsen pupuk bagaimana perkembangan ada pupuk kah? Ada pak, di mana adanya. Di lini satu kah?, di lini dua kah?, di lini tiga kah?.

Jadi kita minta mana daftarnya berapa dilini satu, berapa dilini dua, berapa dilini tiga, kebutuhan berapa di setiap lini. berarti ini kurang tambah ini, bisa kamu tambah ini besok, bisa pak. Besok kami dengar laporannya. Kemudian ditanya soal benih bagaimana sangyang sri, ada cukup benih, ada pak tapi kami hanya butuh kira-kira 50% dari kebutuhan pak, karena ada pembibitan kami pak diserang penyakit itu nggak bisa kamu prediksi. Nggak pak, nggak bisa diperidiksi. Kalau begitu sekarang apa usulmu, kalau bisa izinkan kami untuk impor benih pak, berapa maunya, kualitasnya apa, kemampuan daya tumbuhnya gimana sekian, oke ajukan permohonan terus disetujui, semua dicek, lalu penggairan oleh PU (pekerjaan umum), bagaimana yang namanya bendungan bagus pak, berapa meter itu, seratus lima belas meter contohnya yang di Jati Luhur.

Sudah seratus tujuh meter pak, posisi normal ngimana, cukup hanya seratus lima, bisa semua Pantura kau irigasi? Ada pak nggak bisa terpantau karena agak jauh pak. Kenapa salurannya tidak bagus, Bisa kau perbaiki nggak? Tapi dananya nggak ada. Sudah kau ajukan permohon itu? Belum pak, Ajukan dong!. Lalu ada menteri Keuangan di situ kalau diajukan ini ada dana yang dipakai untuk itu. dana kalau tidak ada usahkan musti ada ya. Jadi semua dikombain di sini. Sehingga, tidak ada yang mengatakan tidak, lah, gotong royong semua manusia ini kerja untuk rakyat.

Jadi, setiap musim kita tetap begitu, lalu di tinjau ternyata tidak beres. Jadi ada infosment, fanesment, semua jadi kerja baikkan. Jadi problema yang paling besar di bangsa atau di pemerintahan ini kurang koordinator. Koordinatornya tidak diikuti orang yang dikoordinir, Menko nya bilang begini yak pak, bisakan padahal tidak dikerjakan, si Menteri ini walaupun ada Menkonya bisa langsung ke Presiden. Datang ke preseden, melapor kepada presiden begini pak, begini…, kebetulan anak manis kawan ini di sanakan, iyala-ilah, tahu-tahunya nggak jalan.

Nah, kemudian ada lagi Menteri lain, tidak begitu baik dengan Menko-nya, dia pergi kepartainya kan, ketua partai di kasih minum ketua-nya buat laporan. Lalu datang lah ketua partai ini kepada Presiden.

Pak Presiden anak buah saya ini adukan begini-begini tolonglah diperhatikan, jangan dimarah-marahin dong dan segala macam. Maka semua begitu, maka kontribusi semua untuk mencapai tujuan tidak terjadi, saling membuat alasan masing-masing kan. pamisment nggak ada yang bisa, siapa Presiden mana mau. Kalau ia misalnya mengatakan Menteri Pertanian ganti, nanti anggota PKS puluhan ribu ke Istana, whooo itu teman kami. Jadi situasi yang sekarang ini dalam keadaan tidak jelas, itu yang selau dipertanyakan banyak orang eksekutif. Kabinet ini kebinet presidensil atau kabinet parlementer. Presidennya yang merasa ia kabinet presidensil, selalu dengar-dengar DPR kan.

Sehingga DPR ini membawa rolnya berlebihan. Ada yang harus melihat keadaan sampai ke Mesir, tak tahu melihat apa disitu. Ada yang pergi ke Vietnam, kok jadi pikir macam-macam kan begitu. Artinya apa, diberikan kesempatan untuk orang DPR ini untuk menentukan, anggaran pun begitu. Menteri keuangan tidak bisa lagi menetukan anggaran misalnya pertanian. Karena Menteri Pertanian dipanggil komisi IV, kalau baik hubungannya si Menteri Pertanian dengan Komisi IV diusulkanlah semua keinginannya dikasih pada Menteri Keuangan, nggak bisa lagi Menteri Keuangan berkata nggak bisa. Persoalannya ini nggak mau tahu, yang penting terpenuhi semua keinginan kami, kalau nggak bisa mengeluarkan duit silakan bilang aja, bilang sama bos you lah(presiden), kan susah itu.


Ini lah situasi yang saya lihat dalam pemerintah yang sekarang ini. Kalau waktu kami dulu, sedikitnya partai, Golkar, PDI,PPP, itu doang kan. Dan kemudian mereka dipakai subjek pada kebutuhan, nggak ada dorongan karena PDI meminta kami harus ini, langsung dibilang setan belau loh.

Jadi dipakai sesuai dengan profesionalnya, kalau dia tidak konpeten di bidang itu. Nah, ini sekarang tidak ada lagi berkata karena konpetensi, sekarang karena partai menggusulkan. Saya melihatnya seperti itu, saya tidak mengatakan itu salah. Tetapi komando itu tidak lagi full memegang tongkat komando. Dia sudah terbagi-bagi, ada dari DPR ada dari Partai dan segala macam, jadi situasi yang begini jika dihadapkan pada rakyat bisa rakyat ditinggalkan.

Maka saya bilang kita buat forum ini, mereka cari politik silakan, mereka cari kekuasaan silakan. Kita tidak mau itu di merekalah itu semua. Jadi bagaimana caranya menaikan produksi pertanian itu, tingkatkan produktifitas, kalau ini terjadi banyak beras di masyarakat kemudian konsumen pun akan mendapat harga yang baik. Dan sirakyat pun mendapat hasil yang baik, karena produksinya banyak. Jumlah yang banyak kali harga dia kan akan mendapat bagian juga, tetapi kalau jumlah yang kecil maka kecil pula hasilnya. Lalu terjadi harga yang ideal untuk membantu sikonsumen dan sipetani.

Tetapi pak ada dewan ketahanan pangan pak, bagaimana itu?

Badan bukan forum Dewan Beras. Betul berarti kau ikuti persoalannya. Dewan Ketahanan Pangan itu arsitekturnya adalah pemerintah, dan disitu semuanya pemerintah. Tidak pernah ada muncul disitu dari orang-orang petani, misalnya seperti saya ada namanya Kelompok Tani Andalan (KTA), kalau kita bilang begini-begini. Langsung dijawab nggak pak laporan anak buah saya, ternyata disana tidak sampai air, bohong itu. Lalu kita ke PU pak PU tolong dong airnya dibocorin dong kesana. Ya memang betul, itu airnya rusak pak gaol. Ya rusak perbaikin dong, lalu kita kementerinya pak Menteri bisa bagaimana, ya kita perhatikan, lalu kita datangin lagi Menterinya pak Menteri bagaimana, lalu dibilang ya susah, lah kok dipakai orang seperti itu. Jadi ada sistim yng saling menghargai orang lain, dan kemudian berjalan bersama-sama.

Bagi kita pensiunan ini apa lagi yang kita butuhkan, apasih yang kita butuhkan ngga ada lagi, kita sudah punya cucu anak-anak kita sudah hidup sendiri. Seperti saya sekarang hanya tinggal bersama-sama dirumah, berdua dengan istri. Kembalilah seperti yang pacaran.

Bapak bisa dikatakan mengulang masa lalu, pada tahun 1984 itu. Tapi motifnya sama yang dilakukan pada tahun 84 itu?

Motifnya yang sama, artinya motif di sini adalah bagaimana kita memberdayakan kemampuan si petani. Kalaupun dulu kami waktu kami ada disitu, masih ditangan kelompok pertanian yang ada disitu. Dan kemudian si petani itu seperti prajurit yang dikomando, kalau sekarang tidak. Misalnya, IF 64 saya kasih IF 64 lalu bupati bilang tidak bisa, cabut ganti. Jadi sepetani mempunyai ukuran-ukuran. Kalau sekarang kita tidak mengatakan begitu. Menurut dia baik, lalu kita punya. Contohnya yang kira-kira yang mahal, tapi hasilnya berlipat-gandakan. Seratus persen hasilnya dari empat ton menjadi delapan ton, kalau Anda ikuti kembali pakai pupuk organik dan segala macam bisa dapat 10-12 ton.

Lalu, di setiap daerah kita siapkan orang dewan beras nasional, di bidang Provinsi, Kabupaten, segala macam. Mereka yang ikut menumbuhkan. Sementara kita berikan pelatihan untuk berikutnya kita tidak perlu lagi ngomong sama dia. Maka kita menyediakan bibit-bibitnya, tapi tidak ada lagi di situ yang aneh aneh. Lalu, yang paling besar sebenarnya masalah adalah hay kost ekonomi. Anda tahu nggak contohnya di Bekasi ada orang mau panen, nggak boleh yang bersangkutan manen itu. Datang preman-preman itu di bilang begimi he bu jangan panen ya kami yang panen, sepuluh persen hasilnya pada kami, jadi si preman-preman ini yang nggak pernah punya sawah ia yang panen. Jadi ini juga kita pekirkan agar ini jangan ada lagi.

Hal yang sama waktu saya kampaye di Bandung ada seorang ibu mengeluh, saya tanya kenapa bu, jawab si ibu ini besok anaknya tidak bisa sekolah karena akan dipalak si preman-preman, lalu saya bilang adukan dong sama RT, lalu dibilang RT nya saja takut pak….aduh. Jadi mereka dikungkung orang yang merasa kuat dan terorganisir. Nggak bisa bergerak rakyat ini gara-gara ada preman-preman seperti itu, ngga ada alatnya untuk melawan itu.

Nah, kalau nanti kita di daerah bicara dengan bupati ini harus dihilangkan, premanisme dihilangkan semuanya. Tetapi ia bisa begitu karena pekerjaannya ngak ada, karena dia menganggur. Tetapi kalau nanti mulai dari pedesaan kita pun membuka lapangan kerja. Katakan dia ikut bekerja dipengilingan padi, ada industri pedesaan, dibuat barang yang bisa dijul sehingga ada mainnanya. Kalau dia tidak ada pekerjaannya ganggu di kan.

Sama dulu seperti saya waktu baru lulus dari UGM datang ke Jakarta, saya bilang pada teman-teman wah kalau ini saya tidak dapat pekerjaan, sudah capek saya yang kuliah ini, saya bilang gua paculi yang namanya jalan ini, biar juga dibilang orang gila. Kalau kita pekerjaan ada tak mungkin ribut-ributlah nggapain, siapa yang mau susah, ngga ada. Semua orang ingin nyaman dan dihormati orang lain. Jadi melakukan yang dapat kita kerjakan.

Seperti yang kemarin, kan beberapa Gubernur mendapat penghargaan dari Presiden untuk ketahanan pangan?

Betul, subjek apa yang mereka bikin prioritas. Kalau prioritas mengenai ini, maka itu saja yang dikerjakan. Memang belum siap kita menjadi otonomi daerah, yang tadinya ia camat jadi bupatikan, yang tadinya kabupaten jadi provinsi, jadi gubernur dia. Jadi tidak pernah ada perencaan tidak pernah terpikir begitu memang karena tidak biasa. Alhasil, ada misalnya LSM mengatakan kita membuat begini-begini, tapi secara makro dan keseluruhan masih kuranglah bahwa sebetulnya ekonomi itu sebetulnya bukan hanya itu, maka nggak jalan-lah. Jadi dalam kaitan seperti ini kita lebih baik membantu mereka, kita bantu bupati di daerah, tidak perlu kita mengatakan ah loh sih, dulu lhu preman jadi bupati tidak perlu itu. Rialitasnya ia sudah bupati kita bantu membuka mata saja.

Kenapa coba, Bupati-bupati itu juga ingin namanya harum cuman tidak ngerti dia bagaimana cara-cara untuk seperti ia harum. Tetapi kalau banyak kita datang ke situ, pak Bupati tolong kita buat seperti ini, nanti seperti ini, jadi begini, maka pasti didukung. Maka dia akan didepan untuk menjadi pionir, senang dia maka masyarakat pun akan merasakan senang sama dia. Ayo apa yang kita buat supaya semakin lebih maju.

Di Sumut itu contohnya banyak yang dulunya hanya preman menjadi Bupati, jadi kita tidak perlu tak perlu mempersoalkan itu. Faktualnya ia sudah menjadi Bupati. Jadi nggak ada lagi untuk mengkritik, jadi nanti rusak. Dan kemudian karena mereka tidak tahu mengerjakan apa, yang dipikirkan adalah hanya dana konpensasi itu, bagaimana agar mereka mendapat lebih banyak. Jadi itu saja yang lebih banyak di kerjakan Bupati itu. maka Bupati itu kebanyakan hanya di Jawa di Jakarta ini nggak pernah ia di hotel bintang lima ia menginap bintang lima, di daerah nggak ada wanita yang cantik, kalau di sini banyak wanita yang cantik sehingga bisa lama ia tinggal di sini. Sekwildanya pun pergi ke provinsi lain, itu sekelumit contoh yang terjadi karena otonomi daerah yang belum selayaknya. Saya juga melihat Menteri-menteri itu juga perlu di ciutkan nggak perlu banyak.

Kembali pak tadi, Dewan Beras sudah sampai mana?

Baru sedang mencanangkan, sekarang saya sedang menyusun pengurunnya. Dan saya tentunya tidak mau dulu mengeluarkan konsep apa yang hendak saya tawarkan kepada presiden, nanti pada waktu ketemu dengan presiden saya akan keluarkan dengan konsep saya.

Tentu kan presiden akan bilang begini, Show Whot? Apa yang bisa kalian buat rupanya, kok mau-maunya ingin bikin dewan beras. Kita kan sudah ada dewan ketahanan pangan. Jadi kita akan terangkan begini pak.

Atas izin bapak kita ingin buat seperti ini, kan ngitukan. Jadi akhir bualan ini akan di umumkan pengurusnya, tapi prinsipnya dalam rangka kepedulian masyarakat. Jadi ada disitu yang pro dan yang kontra dengan pemerintah sekarang, dan ada yang tidak sama sekali. Katakan lah oposan. Misalnya Siswono saya undang disitu, Dideh Rachbini (ekonom dan DPR dari PAN), ini suara minor-minor, dari PDI Perjuangan Benny Pasaribu (ekonom & bekas ketua Komisi IX), dalam pakar ada nanti Syarifuddin Hara? (dulu adalah Sekjen Departemen Pertanian) di pakar, dia itu sampai begitu lama di pertanian itu sampai Profesor Doktor dia. Semuanya rata-rata sudah pensiunan.

Ya ada segi positifnya, untuk You tahu masalah pokok dari pesiunan ini, adalah tidak bisa ia menyalurkan pikirannya. Kalau ada forum, kita hanya minta dia bicara contohnya hasil pemaparannya mungkin sampai 20 halaman(kalau ditulis). Jadi kalau keluar semua unek-unek itu ia makin sehat. Jadi pensiunan ini kalau setiap ada keputusan selalu bilang aduh, aduh, sakit dia. pingin dia tidur tidak bisa tidur, ingin makan tidak enak makanya, loh kenapa jadi gemas kita jadi membawa penyakit, dan sangat suka orang-orang sepeti ini membicarakan seperti ini. Tapi saya selalu putus nostalgia nggak usah ya. Artinya ia mau membicarakan kejayaan dia waktu ia memimpin, capek kita mendengakar itu kan. Kita hanya mau lihat kedepan, namun pengalaman masa dulu itu sebagai refensi untuk kita bisa maju kedepan.

Jadi sebetulnya kalau saya melihat SBY ini kurang memamfaatkan itu. Begitu banyak orang yang pintar-pintar yang berpengalaman jauh disitu nggak pernah dipanggil, nggak pernah didengar semua pengetahuan segudang dari orang-orang itu hilang begitu saja. Nggak ada yang mau bicara, buat apa saya bicara toh nggak ada gunanya, toh tidak akan didengar kan gitukan. Jadi itu sebetulnya, tidak ada yang minta apa-apa, seperti menteri yang sudah melayani segala macam. Contohnya Haryono Suyono, banyak kali yang diketahui kawan ini, pernah nggak ilmunya itu diminta untuk famili planing (Keluarga berencana) contohnya yang dibuatnya di Jawa Timur pada jam-jam 11-12 malam, semuanya bunyikan kendongan untuk (agar warga memakai kondom), secara komunikasi jago menghimpun pikiran orang, dulunya sebetulnya paling cocok menteri penerangan.

Tapi sekarang semua ini semua melanglang-buana, keluar Mol ke Mol, jadi sayang kan. Jadi itulah yang saya coba artikan. Karena bebicara beras bisa merembek ke ekonomi, masalah pembangunan. Karena masalah beras terkait ke seluruh aspek. Contoh tentang irigasi misalnya tali air, kesalahan dimana itu kan, pada dulu itu ada sekretaris itu dikelurahan luluh kalau sekarang hanya sekretaris desa, yang dulu tidak kelihatan lagi sekarang sudah bikin Mol, sekarang ada yang beli sepeda motor itu untuk ojek, ojeknya dikasih orang dia hanya duduk dirumah.

Banyak sekarang lembaga di desa itu hilang, karena banyaknya godaan perkotaan. Kultur pun sudah mulai berubah, sekarang anak sekolahan rasanya tidak bangga lagi kalau rengking. Jadi ilmu baru datang ilmu lama ditinggalkan. Anak-anak kecil kita sekarang ini hanya bilang bla-bla, tetapi isinya tidak ada apa-apa. Yang disukai sekarang apa, menjadi presenter, menjadi pemain sinetron, kemudian tiap pagi mendengar cek&ricek,was was, jadi lain kan kulturnya, semua kepentingan ingin instan. Mau makan pingin instan, walau kualitas tidak baik, jadi ada sebuah perubahan paradigma di masyarakat. Maka yang paling pundamental harus di antisipasi oleh pimpin-pimpin bangsa ini. Saya melihat sedikit ada, jangan melihat pempinan bangsa itu hanya ada di pemerintahan itu, padahal ada pimpinan bangsa diluar struktur pemerintahan yang bisa memberikan pemikiran-pemikiran bagus untuk kepentingan bangsa ini. Kalau seperti di Malasya itu ada itu, ada disebut anggota kehormatan bangsa dikasih oleh negara. Mobilnya itu pun khusus ada tandanya itu, itu lepas dari ketentuan dari lalu lintas. Karena dia bisa menyumbangkan pikiran tanpa diminta. Misalnya ia datang ke Walikota memberitahukan ini-itu. jadi ada orang yang selalu memperhatikan itu, kalau kita tidak ada.

Apalagi ke depan obsesi bapak (sebagai seorang putra Batak)?

Oh,begini ya berjuta-juta mimpi, cita-cita tetapi Tuhan yang menentukan. Jadi, saya tidak ada kekesalan lagi walaupun banyak yang belum saya dapatkan, saya menganggapnya sudah saya dapatkan semuanya dengan kemampuan yang ada. Bayangkan saya Bung, waktu saya menjadi mahasiswa, saya bicara-bicara dengan teman-teman kita waktu mahasiswa itu punya sepeda juga ngga punya. Jalan kaki kemana-mana, jadi kita ngomong-ngomong, nanti cita-citamu apa, jawab kita waktu itu ya kalau punya vespa sudah lumayanlah, karena waktu itu kita sepeda-pun tak punya.

Ternyata kita lulus, ternyata kita dapat lebih dari pada itu. Ya dari segi materi, coba enaknya waktu sekolah kita dibiayain pemerintah (beasiswa UGM) cukup, kita juga masih dapat wesel dari orang tua, lalu kebetulan waktu sekolah itu masih ada pikiran bisnisnya ya. Misalnya, kalau kami kuliah di Ngasep, Ngasep itu disitu Kedokteran Hewan,Parmasi,Biologi,Pertanian,Kehutanan, sekali kuliah paling sedikit 2.000 orang. Dan pada waktu itu belum ada mig, jadi kalau kita di belakang nggak tahu apa yang dibilang dosen itu. Dosennya pun orang tua, Profesor Doktor kimia dia dia tangan menulisnya, kekiri satu kekanan satu.

Lalu saya memanfaatkan situasi itu untuk membuat diktat yang kering dibantu oleh cewek-cewek Chiness, lalu saya buat stensilan maka ada pegawainya. Lalu selesai kuliah lau kita buka kios, kita tulis “Disini Ada Diktat yang Kering” wah berebut yang bel, jadi saya dapat duitlah dari situ, awaklah direkturnya, lalu yang jaga didepa ini kita kasih honornya setiap bulan. Jadi ketika itu saya masih bisa membawa cewek menonton. Di sana dulu ada namanya Restoran UN biasanya yang datang kesitu om-om, orang yang berhasil dalam bisnisnya,binis batik dan segala macam,

Jadi kita tidak mau berhenti melihat keadaan, di mana kita bisa masuk kita bekerja maksimal. Jadi begitulah perkembangan. Jadi juga di kala mahsiswa dulu saya membuat koperasi, sabun, pasta, tinta, dll, untuk mahasiswa. Maka pengalaman-pengalaman itu manjadi ilmu kita dikemudian hari. Artinya, kita tidak pernah berpikir untuk duduk di Istana di Bina Graha, melihatnya saja waktu baru datang dari Jogyakarta ke Jakarta, takut kita. Dulu waktu bung karno di situ ada bendera kuning, kalau itu ada berarti Bung Karno ada disitu, kita sudah sarjana dan sudah bekerja di Tanah Abang, kita hanya iseng aja lewat kalau kita melihat ada benderanya disitu wah kita senang sekali. Tapi kita tidak pernah berpikir untuk pernah berkantor di Bina Graha, tetapi karena Kasih Tuhan saya dapat berkat saya dapat 10 tahun bekerja di Bina Graha. Dan setiap hari saya bisa ngomong dengan presiden, kan luar biasa.

Dengan Irjenbang (Inspektur Jenderal Pembangunan), keluar kota pasti dijemput Gubernur kemudian pergi pakai porenjes kita sudah kaya menteri, tidak pernah membayangkan itu. Kenapa Gubernur menjemput kita, kalau saya ngomong-ngomong sama Presiden, Pak saya baru dari daerah ini pasti kita kasih tahu yang terjadi di derah itu, lalu beliau olah informasi ini ke Sekneg, maka paling tidak itu yang ditakuti para Gubernur. Jadi kita langsung mata dan telinga pak Presiden, kemana-mana kita pergi apa saja bisa kita ngomong. Mengenai Politik kita bisa ngomong, mengenai Pembangunan bisa kita ngomong, Menteri saya bisa kita ngomongin dengan presiden.

Tapi ini semua tidak karena kemampuan saya itu tetapi karena Tuhan membimbing, mengantar kita sampai kita ditempat itu. Saya rasakan betul itu, bukan berari karena saya lebih pentar dari orang lain, lebih banyak orang yang lebih pintar dari kita. Tapi kok bisa kita duduk disitu. Nah itulah yang tidak ditangkap, diperkirakan orang-orang mudah sekarang.

Contohnya, kemarin saya di Universitas Kristen Indondesia (UKI) kemarin terus saya bilang kau itu masih sangat kecil dengan kami, walupun kamu Dosen sepuluh tahun yang tahu A sampai J, saya lebih tahu A sampai Z, jadi jangan coba-coba mengajari saya, saya bilang begitu. Jadi orang-orang yang seperti ini tidak bisa berkembang dia. Di kultur adat jawa anak buah tidak boleh mengajari bapak buah, itu kultur itu. Kalau bodoh pun bapak buah itu ya sudah begitulah ikutin saja. Saya bilang kau dari Siborong-borong, dari Balige, Samosir, hanya tempatmu yang berubah, tapi pikiranmu, budayamu, mentalitasmu orang(belum berubah) Lagoboti kau. Jadi saya bilang begitu bukan orang Jakarta kau. Nggak bisa melihat perubahan apa, agar bisa bergaul dengan orang Sunda, orang Jawa,orang Manado. Kalau mentalitasmu yang dari Batak sana itu masih tidak bisa beradaptasi, saya bilang susah kau.

Jadi ilmunya bukan hanya kepintaran. Tetapi bagaimana kita bersosialisasi dengan banyak orang, bagaimana agar orang lain bisa menghargai kita. Itu yang penting, ilmu itu leiter. Saya contohnya sebagai mantan Itjenbang tidak perlu hanya otak saya di situ, saya butuh doktor-doktor segala macam, tetapi yang lebih penting bagaimana kita membawakan diri. Bagaimana kita dengan nilai terhadap hal-hal yang penting itu. ***Hojot Marluga

Tidak ada komentar: