Budaya
Saat ini banyak orang Batak yang mulai meninggalkan budayanya. Misalnya sekarang di pesta-pesta Batak atau acara budaya, seolah-olah musik grup keyboard dan poco-poco lebih laris dan dihargai, daripada dengan musik gondang Batak. Misalnya, saat pesta perkawinan, musik keyboard atau pop Barat itu akan lebih ditonjolkan. Sedangkan ansambel musik gondang dianggap kampungan.
Semakin lama gondang Batak terpinggirkan. Pemusik muda-muda pun didorong memainkan musik yang lebih laris ala Barat. Akankah musik gondang akan hilang? Atau mungkin gondang bertahan dalam ritual Parmalim? Tragis. Kalau warisan khasanah budaya Batak, gondang yang punya nilai sejarah tersebut akan punah.
Namun masih ada secerca harapan, karena ada yang masih peduli. “Masih ada (harapan). Karena saya memang berprinsip kalau budaya ini harus hidup tetap. Orangnya bisa meninggal, tetapi budayanya jangan. Sedih tetap ada, itu tidak bisa dipungkiri. Rasa kecewa melihat gondang tidak banyak yang peduli. Sampai mati saya peduli sama gondang. Saya akan lestarikan gondang ini,” ujar Tarzan Simamora pendiri group gondang Batara Guru. Salah seorang Batak yang konsen pada gondang Batak.
Sementara belajar musik gondang Tarzan hanya belajar sendiri. “Saya belajar otodidak. Artinya hanya dengar suling saja saya langsung bisa. Mata guru roha sisean (mata memandu hati merasakan). Bahwa di sana bikin begini, begitu kita coba ngitu. Jadi kita tidak perlu harus diajarin,” ujar Bapa dari Dermawati Simamora, 28 tahun, Darmanto, 25 Tahun, Darwin, 24 ini pada TAPIAN.
Tarzan Simamora lahir di Laeparira, Paronggil, 5 Juni 1956. Sehari-harinya bekecimpung dalam musik tradisi Batak (gondang Batak). Dipanggil bang Mora. Saat ini adalah salah satu personil “Nada Sumbang Terpadu” group pemain musik seluruh Indonesia yang selalu diundang televisi swasta ini mengisi acara.
Nama sebenarnya adalah Tazan, “Tarzan bukan nama asli. Sebenarnya kurang satu huruf. Itu karena kelakuan sehari-hari waktu kecil. Jadi orang kampung yang menyebut. Jadi setiap orang lewat selalu saya dipanggil dengan nama Tarzan.
Tarzan yang tinggal di Jalan Gading Raya Gg XIV N0.49, Cipinang ini. Menjadikan rumahnya menjadi kantor Batara Guru. Group gondang yang didirikan sejak tahun 1986 sudah banyak melalang-buana. Diantaranya pernah mengadakan pestival gondang di TIM.
Saat ini Batara Guru selain mengisi acara pesta adat, jiga diundang diberbagai gerja seperti di Gereja Katolik, kalau Katolik rata-rata di Jakarta ini.
Demikian pula tak kala diundang di berbagai pesta. “Tidak selamanya gondang Toba yang dipakai. Kalau hula-hula (besan dari punya hajatan) dari Simalungun, kita harus mampu memadu gendang Simalungun. Demikian pula, kala gendang sembilan Mandailing, kita harus mampu memadukannya,” ujar ayah tiga orang ini dengan mantap.
Menurutnya seorang pargondang (penabuh gendang) harus bisa menyatu dengan musiknya. “Gunung dua lapis bisa tembus. Suara ni ogung si tombis pitu dolok (suara gendang yang bagus bisa menyaringkan suaranya tujuh lapis gunung, dan menghibur),” ujar sutradara Gondang Noposo di Rawa Mangun, Jakarta Januari kemarin, menutup pembicaraan. Hojot Marluga***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar