Kamis, 06 November 2008

Sejarah Singkat Marbun



Sejarah Singkat Marbun
Asal-usul dan tarombo (silsilah) merupakan suatu hal penting diketahui setiap kita, terutama anak-anak Marbun yang lahir di kota. Mengapa perlu? Supaya mereka mengetahui letak posisi mereka dalam martutur. Sebab, mereka yang tidak mengetahui silsilahnya atau asal-usulnya akan dianggap orang Batak kesasar (nalilu).
Marbun adalah anak dari Naipospos. Naipospos adalah anak bungsu Tuan Sorbadibanua yang lahir dari Boru Sibasopaet. Naipospos mempunyai isteri dua, keduanya Boru Borbor, ada yang menyebut Boru Pasaribu. Istri pertama Naipospos melahirkan Martuasame atau Toga Sipoholon yaitu; Sibangariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Namun, yang pertama memberikan keturunan pada Naipospos adalah isteri kedua yang melahirkan Marbuun menjadi Toga Marbun; Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol.
Marbuun atau Marbun berasal-muasal dari Bakkara, huta yang menjadi pusat dinasti Sisingamangaraja. Perlu diketahui, setiap penabalan Raja Sisingamangaraja harus diusulkan enam marga si onom ompu yaitu marga Bakara, Sinambela, Sihite, Simanullang, Simamora dan Marbun. Dan, tombak sulu-sulu dimana isteri Bona Ni Onan, ibu dari Sisingmangaraja I sering keramas marpangir berada tepat di perkampungan marga Marbun.
Dari Bakkara keturunan Marbun menyebar ke segala penjuru. Lumban Batu bermukim di Sipituhuta, Pasurbatu (Dolok Sanggul), Meat (Balige), Sigordang (Samosir), Huta Nagodang (Pakkat) dan ada yang tetap menetap di Bakkara. Marga Banjar Nahor ada yang tetap di Bakkara, sebagian menyebar ke Parsingguran (Pollung), Sihikkit, Sijamapolang (Bonan Dolok), Onan Ganjang dan Parbotihan. Sementara Lumban Gaol tidak banyak di Bakkara, umumnya bermigrasi ke wilayah jauh; ada yang ke Parlilitan menyebut diri Meha atau Mungkur. Yang bermigrasi ke Dairi menyebut diri Saraan. Tetapi terbanyak keturunan Lumban Gaol bermukim di Pollung, Parsingguran, Hutajulu, Hutapaung, Marade, Sipitu Huta, Aek Nauli, Matiti, Parit Sinomba, Sanggaran dan Sitapongan. Itulah sejarah singkat Toga Marbun, dari sanalah keturunan Marbun merantau (marserak) ke berbagai wilayah termasuk ke Bekasi ini. Memang, kedatangan Marbun di Bekasi jelas tidak sama dengan gelombang migrasinya kakek-moyangnya mereka terhadulu membuka huta dengan berkelompok.


Foto: Bakkara, asal-usul Marga Marbun

Marbun Bekasi
Pungguan atau organisasi Marbun Bekasi berinduk ke Marbun se-Jabodetabek. Organisasi Marbun Bekasi dibentuk pertama kali pada tahun 1999, dipelopori naposo (pemuda). Organisasi marga yang berfungsi sebagai organisasi sosial diwujudnyatakan dalam (manghobasi ulaon holong) menyelenggarakan pelayanan kasih baik duka maupun suka.
Sejak ada, organisasi ini terus berbenah, mengadakan kunjungan kasih lewat ruhut-ruhut adat, kegiatan berupa bona taon dan perayaan natal, untuk hal ini naposo dan natua-tua (orang-tua) saling sinergi. Saat ini keturunan Marbun sudah ratusan kepala keluarga menetap di kabupaten ini. Salah satu acara yang konsisten diadakan setiap tahun adalah Perayaan Natal Bersama sejak tahun 1999 hingga tahun 2008 ini.
Organisasi Marbun Bekasi terus menyesuaikan diri dengan zaman yang terus berubah. Untuk membuka komunikasi bagi komunitas Marbun di semua perjuru khusus Marbun Bekasi, naposo membuka diri lewat beranda maya melalui weblog http://marbunonline.blogspot.com. Namun, weblog ini belum dikelola secara serius, ke depan weblog ini akan dikelola sepenuh hati oleh naposo sebagai bagian ekspresi diri Naposo Marbun Bekasi. Maka untuk itu naposo butuh dukungan yang nyata dari natua-tua. Saran dan kritik dapat dikirim pada e_mail: marbun.bekasi@yahoo.co.id. Sekian.***HM

Tidak ada komentar: