Kamis, 06 November 2008
Etos, Budaya dan Agama
Etos, Budaya dan Agama
Oleh Hojot Marluga *)
Indonesia memiliki 247 hari waktu kerja efektif dalam se-tahun. Artinya 33 persen waktu efektif kita tidak bekerja. Waspada, (10/12) tahun lalu memberitakan semangat kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Tapanuli Selatan rendah dan memalukan. Survei dilakukan kantor Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel). Rata-rata PNS bekerja 8 jam per hari atau 48 jam per minggu, ternyata pada prakteknya jam kerja PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapsel jauh di bawah standar. Menurut hasil survai tersebut, rata-rata PNS hanya bekerja tidak lebih daripada 20 persen dari waktu bekerja yang seharusnya. Artinya rata-rata PNS hanya bekerja kurang lebih dua jam per hari, atau hanya bekerja sepuluh jam per-minggu. Padahal, jika dibandingkan dengan Korea Selatan rata-rata bekerja 2.423 jam per tahun, mereka bekerja lebih efektif, penuh semangat. Itu sebabnya mereka maju pesat karena produktivitas menghasilkan kualitas.
Etos kerja masyarakat kita memang jauh panggang dari api. Ada orang yang senang duduk-duduk di kursi goyang, ada yang senang tidur-tiduran di lesehan, para pemimpin hanya duduk dibelakang meja. Hal ini sering kita saksikan dari tahun ke tahun, padahal kita sepakat untuk mendapat SDM harus yang betul-betul berjiwa pelayan. Jika mau menjadi besar harus menjadi pelayan—memang itu sudah kodrat alam. Malah sebaliknya pemerintah mentolerir Harpitnas ( hari Terjepit Nasional) menjadi libur panjang, menandakan semangat kerja bangsa ini masih jauh dari harapan.
Etos yang Etis
Rusaknya semangat kerja dimana-mana disebabkan rusak-nya akal budi dan serong-nya logika. Etika sudah salah diisi, maka salah diperlakukan dan salah melaksanakan. Etika diisi oleh dalil-dalil yang saling bertentangan—hingga ruang hati nurani hampa. Akhirnya orang tidak merasa bersalah menerima gaji tanpa bekerja, memakan gaji buta. Etos negatif menghasilkan nol menyusul jatuhnya tanggung jawab moral.
Selama ini etika kerja belum diaplikasikan sehari-hari. Etika cuman diekpresikan hanya sebagai tatakrama, dan akhirnya hanya dihargai sebagai basa-basi. Usaha menembus etika atau spirit kerja dengan sebutan lain semisal “moral” ataupun etos faktor ini ditempatkan mula di atas awan. Belajar dari semangat kerja yang tinggi semisal Mahatma Ghandhi, Fransiskus, dari Asisi, Bunda Teresa, Albert Schweitzer, etos kerja mereka terlukis dalam etika sehari-hari. Hal itulah yang dilukiskan Marx Weber (sosolog) sebagai semangat sorgawi daripada pesona yang jiwanya hidup abadi.
Budaya Lokal
Dampak budaya lokal juga bisa diadapsi seperti semangat dagang Jawa yang tidak terlalu menekankan keuntungan, bagi mereka biar untung sedikit namun kebersamaan terjaga selalu. Orang China menekakan untung kecil namun terus-menerus mengalir. Budaya lokal selalu mengajarkan kearifan lokal; maka berpikir seperti orang Batak, bekerja seperti orang Jawa, berdagang seperti orang Cina, diambil dari kearifan budaya. Hanya sekarang Indonesia berubah sejak semangat modern (budaya) dari Barat yang kapitalis membuat kita hilang jati diri; akibatnya simbol-simbol dari Barat dianggap baik, budaya dengan gaya hidup. Kafe menganti warung kopi, Mc Donald menganti warung nasi, Supermall menganti pasar tradisional.
Kearifan budaya adalah warisan nenek moyang yang harus dikenang sebagai bangsa berperadapan maju. Misalnya candi Borobudur adalah mahakarya orang-orang kreatif masa lalu. Budaya itu telah terus menerus menyesaikan diri pada setiap zaman, diinterpretasikan dikembangkan menjadi kualitas produk, sendi, inspirasi, pengalaman hidup dan semangat juang. Penulis terkesan dengan kreatif Dynand Farid (44) ide membuat Jember Fassion Carnaval (JFC); walau dulunya ditolak, tetapi karena semangat (etos) yang tinggi Farid berjuang menjadikan Jember kota mode, kini hasilnya JFC terkenal diseluruh negeri.
Soal semangat kerja mari kita belajar dari budaya kerja Google, perusahaan pencari data di internet paling terkenal saat ini, menurut majalah BusinessWeek edisi Indonesia perusahaan ini menjadi nomor wahid dari 50 perusahaan berkinerja terbaik di Amerika Serikat saat ini. Google didirikan dua orang keturunan Yahudi, Larry Page dan Sergey Brin. Kunci sukses mereka adalah semangat kerja yang tinggi mewujudkan impian. Keduanya sepakat hidup dengan sederhana. Lalu, di markas mereka Googleplex menjadikannya ruang kerja yang paling nyaman dan menyenangkan di antara perusahaan-perusahaan lain. Selain itu, semangat kerja di Googleplex terasa, suasana kekeluargaan, ada makanan gratis tiga kali sehari, ada tempat penitipan bagi bayi ibu muda, bahkan sampai kursi pijat elektronik pun tersedia, intinya membuat pekerja kreatif dan menghasilkan produk yang berkualitas.
Walaupun keduanya drop out dari Stanford University, namun mereka banyak mempekerjakan doktor matematika lulusan terbaik dari berbagai universitas dunia. Yang mencegangkan adalah budaya kerja di Google adalah; setiap masalah diselesaikan bersama. Intinya kesederhanaan menjelma menjadi kekuatan yang luar biasa. Hasilnya, Google menjadi mesin pencari terdepan, dikunjungi lebih dari 300 juta orang perhari. Diterjemahkan dalam 88 bahasa dengan nilai saham mencapai lebih dari 500 dolar AS per lembar. Semuanya dimulai dari etos kerja yang tinggi, semangat itu menjadi budaya kerja—sehingga berdampak pada spritualitas mereka.
Semangat Protestanisme
Di Eropa abad ke-18 kapitalisme bertumbuh, dimulai dengan revolusi sosial dan pergolakan itu mengubah pandangan manusia dari keyakinan kepada Tuhan menuju penyembahan alam materi yang sekularistik. Akibatnya, komersialisasi, industrialisasi hingga, revolusi sains.
Marx Weber memperlihatkan bahwa Protestanisme tertentu tidak menolak pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional, asal melalui usaha memperoleh spiritual dan moral yang positif. Ia berpendapat bahwa kaum Kristen mulanya mencari kolerasi antara etos kerja dengan masalah doktrin keselamatan. Kemudian, Martin Luther mendukung pembagian kerja yang mulai berkembang di Eropa. Namun pemenuhan etika Protestanisme menyala pada semangat Calvinis hingga mempengaruhi Eropa (Swiss, Jerman).
Dalam pengertian yang sederhana semangat Protestanisme berpandangan bahwa dunia ini tempat berkarya. Namun salah jika orang yang tidak berhasil dalam ukuran duniawi dipandang sebagai kemalasan atau tanda Tuhan tidak memberkatinya. Semangat Protestanisme mengajak gerakan hemat (tidak hidup hedonis, atau hidup berpoya-poya) sebagai hal yang baik. Maka gagasan Protestanisme mempengaruhi perkembangan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, walau bukanlah faktor satu-satunya. Penggabungan antara kerja keras dengan sistematisasi rasional.
Kemudian Weber lewat esainya tiba pada pemikiran; perspektif perbandingan antara agama dan masyarakat, yang dilanjutkan pada karya tentang agama di Tiongkok dan Yudaisme. Menurutnya, kapitalisme modern berkembang dari pengejaran kekayaan yang bersifat keagamaan. Pada suatu titik tertentu, rasional ini berhenti, mengalahkan, dan meninggalkan gerakan keagamaan yang mendasarinya, sehingga yang tertinggal hanyalah kapitalisme rasional. Namun, Weber tidak setuju pemikiran Karl Marx yang berpendapat, bahwa semua lembaga manusia termasuk agama didasarkan pada dasar-dasar ekonomi. Menurut Weber bahwa bekerja keras bukan dosa, tetapi tidak pula membanting tulang demi ambisi kaya-raya dibalut obsesi.
Etos kerja protestanisme ditiru Korea Selatan, sekarang mereka maju luar biasa. Demikian pula Jepang menjadi bangsa yang besar; dimulai mengadopsi kearifan budaya lokal. Dampak semangat kerja menjadikan Jepang menjadi negara nomor satu harapan hidup manusia dengan rata-rata 82,6 tahun, mengapa? Karena tiap hari mereka memeras keringat dan bekerja keras. Mari kita bekerja keras.
--------------------
Daftar Pustaka;
• Belshaw Cyril S, Tukar Menukar Tradisional Dan Pasar Modern, Penerbit, Gramedia, Jakarta.
• Abdullah Taufik, Agama, Etos Kerja Dan Perkembangan Ekonomi, Penerbit, Buku Obor & LP3ES, Jakarta.
• Lubis, Mocthar, Transformasi Budaya Untuk Masa Depan, Penerbit, Inti Indayu Press, Jakarta.
• Enam Puluh Tahun Pdt. D.Dr. S.A.E. Nababan LLD, Mencari Keseimbangan, Penerbit, Sinar Harapan & YAKOMA, Jakarta.
• Analisa Kebudayaan, Proses Pembauran Bangsa Melalui Budaya, Penerbit, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Oleh Hojot Marluga *)
Indonesia memiliki 247 hari waktu kerja efektif dalam se-tahun. Artinya 33 persen waktu efektif kita tidak bekerja. Waspada, (10/12) tahun lalu memberitakan semangat kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Tapanuli Selatan rendah dan memalukan. Survei dilakukan kantor Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel). Rata-rata PNS bekerja 8 jam per hari atau 48 jam per minggu, ternyata pada prakteknya jam kerja PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapsel jauh di bawah standar. Menurut hasil survai tersebut, rata-rata PNS hanya bekerja tidak lebih daripada 20 persen dari waktu bekerja yang seharusnya. Artinya rata-rata PNS hanya bekerja kurang lebih dua jam per hari, atau hanya bekerja sepuluh jam per-minggu. Padahal, jika dibandingkan dengan Korea Selatan rata-rata bekerja 2.423 jam per tahun, mereka bekerja lebih efektif, penuh semangat. Itu sebabnya mereka maju pesat karena produktivitas menghasilkan kualitas.
Etos kerja masyarakat kita memang jauh panggang dari api. Ada orang yang senang duduk-duduk di kursi goyang, ada yang senang tidur-tiduran di lesehan, para pemimpin hanya duduk dibelakang meja. Hal ini sering kita saksikan dari tahun ke tahun, padahal kita sepakat untuk mendapat SDM harus yang betul-betul berjiwa pelayan. Jika mau menjadi besar harus menjadi pelayan—memang itu sudah kodrat alam. Malah sebaliknya pemerintah mentolerir Harpitnas ( hari Terjepit Nasional) menjadi libur panjang, menandakan semangat kerja bangsa ini masih jauh dari harapan.
Etos yang Etis
Rusaknya semangat kerja dimana-mana disebabkan rusak-nya akal budi dan serong-nya logika. Etika sudah salah diisi, maka salah diperlakukan dan salah melaksanakan. Etika diisi oleh dalil-dalil yang saling bertentangan—hingga ruang hati nurani hampa. Akhirnya orang tidak merasa bersalah menerima gaji tanpa bekerja, memakan gaji buta. Etos negatif menghasilkan nol menyusul jatuhnya tanggung jawab moral.
Selama ini etika kerja belum diaplikasikan sehari-hari. Etika cuman diekpresikan hanya sebagai tatakrama, dan akhirnya hanya dihargai sebagai basa-basi. Usaha menembus etika atau spirit kerja dengan sebutan lain semisal “moral” ataupun etos faktor ini ditempatkan mula di atas awan. Belajar dari semangat kerja yang tinggi semisal Mahatma Ghandhi, Fransiskus, dari Asisi, Bunda Teresa, Albert Schweitzer, etos kerja mereka terlukis dalam etika sehari-hari. Hal itulah yang dilukiskan Marx Weber (sosolog) sebagai semangat sorgawi daripada pesona yang jiwanya hidup abadi.
Budaya Lokal
Dampak budaya lokal juga bisa diadapsi seperti semangat dagang Jawa yang tidak terlalu menekankan keuntungan, bagi mereka biar untung sedikit namun kebersamaan terjaga selalu. Orang China menekakan untung kecil namun terus-menerus mengalir. Budaya lokal selalu mengajarkan kearifan lokal; maka berpikir seperti orang Batak, bekerja seperti orang Jawa, berdagang seperti orang Cina, diambil dari kearifan budaya. Hanya sekarang Indonesia berubah sejak semangat modern (budaya) dari Barat yang kapitalis membuat kita hilang jati diri; akibatnya simbol-simbol dari Barat dianggap baik, budaya dengan gaya hidup. Kafe menganti warung kopi, Mc Donald menganti warung nasi, Supermall menganti pasar tradisional.
Kearifan budaya adalah warisan nenek moyang yang harus dikenang sebagai bangsa berperadapan maju. Misalnya candi Borobudur adalah mahakarya orang-orang kreatif masa lalu. Budaya itu telah terus menerus menyesaikan diri pada setiap zaman, diinterpretasikan dikembangkan menjadi kualitas produk, sendi, inspirasi, pengalaman hidup dan semangat juang. Penulis terkesan dengan kreatif Dynand Farid (44) ide membuat Jember Fassion Carnaval (JFC); walau dulunya ditolak, tetapi karena semangat (etos) yang tinggi Farid berjuang menjadikan Jember kota mode, kini hasilnya JFC terkenal diseluruh negeri.
Soal semangat kerja mari kita belajar dari budaya kerja Google, perusahaan pencari data di internet paling terkenal saat ini, menurut majalah BusinessWeek edisi Indonesia perusahaan ini menjadi nomor wahid dari 50 perusahaan berkinerja terbaik di Amerika Serikat saat ini. Google didirikan dua orang keturunan Yahudi, Larry Page dan Sergey Brin. Kunci sukses mereka adalah semangat kerja yang tinggi mewujudkan impian. Keduanya sepakat hidup dengan sederhana. Lalu, di markas mereka Googleplex menjadikannya ruang kerja yang paling nyaman dan menyenangkan di antara perusahaan-perusahaan lain. Selain itu, semangat kerja di Googleplex terasa, suasana kekeluargaan, ada makanan gratis tiga kali sehari, ada tempat penitipan bagi bayi ibu muda, bahkan sampai kursi pijat elektronik pun tersedia, intinya membuat pekerja kreatif dan menghasilkan produk yang berkualitas.
Walaupun keduanya drop out dari Stanford University, namun mereka banyak mempekerjakan doktor matematika lulusan terbaik dari berbagai universitas dunia. Yang mencegangkan adalah budaya kerja di Google adalah; setiap masalah diselesaikan bersama. Intinya kesederhanaan menjelma menjadi kekuatan yang luar biasa. Hasilnya, Google menjadi mesin pencari terdepan, dikunjungi lebih dari 300 juta orang perhari. Diterjemahkan dalam 88 bahasa dengan nilai saham mencapai lebih dari 500 dolar AS per lembar. Semuanya dimulai dari etos kerja yang tinggi, semangat itu menjadi budaya kerja—sehingga berdampak pada spritualitas mereka.
Semangat Protestanisme
Di Eropa abad ke-18 kapitalisme bertumbuh, dimulai dengan revolusi sosial dan pergolakan itu mengubah pandangan manusia dari keyakinan kepada Tuhan menuju penyembahan alam materi yang sekularistik. Akibatnya, komersialisasi, industrialisasi hingga, revolusi sains.
Marx Weber memperlihatkan bahwa Protestanisme tertentu tidak menolak pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional, asal melalui usaha memperoleh spiritual dan moral yang positif. Ia berpendapat bahwa kaum Kristen mulanya mencari kolerasi antara etos kerja dengan masalah doktrin keselamatan. Kemudian, Martin Luther mendukung pembagian kerja yang mulai berkembang di Eropa. Namun pemenuhan etika Protestanisme menyala pada semangat Calvinis hingga mempengaruhi Eropa (Swiss, Jerman).
Dalam pengertian yang sederhana semangat Protestanisme berpandangan bahwa dunia ini tempat berkarya. Namun salah jika orang yang tidak berhasil dalam ukuran duniawi dipandang sebagai kemalasan atau tanda Tuhan tidak memberkatinya. Semangat Protestanisme mengajak gerakan hemat (tidak hidup hedonis, atau hidup berpoya-poya) sebagai hal yang baik. Maka gagasan Protestanisme mempengaruhi perkembangan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, walau bukanlah faktor satu-satunya. Penggabungan antara kerja keras dengan sistematisasi rasional.
Kemudian Weber lewat esainya tiba pada pemikiran; perspektif perbandingan antara agama dan masyarakat, yang dilanjutkan pada karya tentang agama di Tiongkok dan Yudaisme. Menurutnya, kapitalisme modern berkembang dari pengejaran kekayaan yang bersifat keagamaan. Pada suatu titik tertentu, rasional ini berhenti, mengalahkan, dan meninggalkan gerakan keagamaan yang mendasarinya, sehingga yang tertinggal hanyalah kapitalisme rasional. Namun, Weber tidak setuju pemikiran Karl Marx yang berpendapat, bahwa semua lembaga manusia termasuk agama didasarkan pada dasar-dasar ekonomi. Menurut Weber bahwa bekerja keras bukan dosa, tetapi tidak pula membanting tulang demi ambisi kaya-raya dibalut obsesi.
Etos kerja protestanisme ditiru Korea Selatan, sekarang mereka maju luar biasa. Demikian pula Jepang menjadi bangsa yang besar; dimulai mengadopsi kearifan budaya lokal. Dampak semangat kerja menjadikan Jepang menjadi negara nomor satu harapan hidup manusia dengan rata-rata 82,6 tahun, mengapa? Karena tiap hari mereka memeras keringat dan bekerja keras. Mari kita bekerja keras.
--------------------
Daftar Pustaka;
• Belshaw Cyril S, Tukar Menukar Tradisional Dan Pasar Modern, Penerbit, Gramedia, Jakarta.
• Abdullah Taufik, Agama, Etos Kerja Dan Perkembangan Ekonomi, Penerbit, Buku Obor & LP3ES, Jakarta.
• Lubis, Mocthar, Transformasi Budaya Untuk Masa Depan, Penerbit, Inti Indayu Press, Jakarta.
• Enam Puluh Tahun Pdt. D.Dr. S.A.E. Nababan LLD, Mencari Keseimbangan, Penerbit, Sinar Harapan & YAKOMA, Jakarta.
• Analisa Kebudayaan, Proses Pembauran Bangsa Melalui Budaya, Penerbit, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar