Kamis, 24 Juli 2008

(Wawancara) Naposo Marbun Bekasi

“Makna Natal” menurut Naposo Marbun Bekasi

· Indra Astari Simanullang (Staf Notaris)

Hojot Marluga (HM): Menurut Anda apa Makna Natal itu?

Tari: Kalau menurut aku, di mana Tuhan Yesus lahir—ke dalam dunia. Tetapi yang kita sepakat itu tidak hanya keramaiannya. Maupun perhiasan dan pohon Natal, tetapi yang terpenting kesiapan hati kita menunggu Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya.

HM: Apakah Anda merayakan Natal dengan beli baju baru?

Tari:Yang ku tahu budaya Natal itu memang biasanya selalu membeli baju baru, tetapi bagi aku itu tidak penting.

HM: Bisa nggak diceritakan sejarah Natal itu?

Tari: Sejarahnya Natal. Tahu persis sih tidak tahu.

HM: Ada nggak tradisi merayakan Natal?

Tari: Kalau di kampung halaman dan di kota pasti ada bedanya. Kalau menurut saya kalau di kampung lebih dinikmati.

HM: Apa suka-dukanya sebagai pengurus organisasi pemuda yang tiap tahun merayakan Natal?

Tari: Saya dalam kumpulan dua kali memang seksi acara. Entah kenapa aku lagi terpilih. Mungkin karena aku dulu melayani di HKBP Setia Mekar. Dukanya kalau kita minta untuk berdoa saja sangat susah. Kita hanya minta mengucap syukur susah amat. Cuma untuk berdoa.

HM: Mengirim kado kartu Natal nggak ke keluarga?

Tari: Ia. Ke keluarga di kampung. Ompung.

· Eny Modesta Lumban Gaol (Staf Karyawan)

HM: Menurut Anda apa makna Natal itu?

Modesta: Menurut saya makna Natal itu adalah menyambut kelahiran Tuhan Yesus. Berarti kita mempersiapkan diri.

HM: Anda tahu nggak sejarah Natal?

Modesta:Sejak kecil kita tahu setiap Natal 25 selalu dirayakan.

HM: Apa perbedaan di kota dan di desa merayakan Natal?

Modesta: Di kampung kan biasanya tanggal 25 itu ada Natal sekolah minggu, tanggal 24 misalnya koor ama. Bedanya di perantauan ini kita biasanya sejak awal Desember sudah merayakan Natal.

HM: Ada nggak kerinduan setiap Natal tiba berbagai dengan orang lain?

Modesta: Banyak sekali. Di gereja ya di punguan marga juga kita ingin berbagi lewat pembawa firman. Kita ingin mau menjadi seperti pendeta.

HM: Ada nggak kebiasaan Anda merayakan Natal dengan teman dekan?

Modesta: Saya biasanya kalau mengikuti Natal sama teman, mungkin kalau ada Natal di gereja saya ikuti. Kalau ada Natal di kampus saya ikuti.

HM: Kalau menjelang Natal ada nggak kebiasaan Anda mengirim kartu Natal, atau mungkin mengirim baju atau kado Natal?

Modesta: Kalau menurut saya, sudah tradisi tahun 2000 sejak ada hanphone—sekarang kita hanya telepon langsung mungkin juga kalau mengirim baju, kita hanya transfer uang, untuk ucapan kartu Natal tetap saja kita postkan.

· Hendrik Sigalinging

HM: Apa makna Natal menurut Anda?

Hendrik: Menurut saya adalah Natal. Adalah menurut saya hadirnya wajah baru.

HM: Anda tahu nggak sejarah Natal?

Hendrik: Menurut saya sejarah Natal itu sudah sejak kecil terbawah dari orangtua. Pertama anaknya selalu diminta terlibat untuk satu bagian.

HM: Ada nggak kebiasaan khusus tiap tahun dalam merayakan Natal?

Hendrik: Aa. Kalau masalah perayaan Natal di kampus saya yang pertama membuka organisasi Kristen di kampus. Pada waktu itu tidak ada organisasi Kristen di kami, puji Tuhan ada jalan di sana untuk bergabung membuat orang Kristen.

HM: Anda pernah nggak merayakan Natal dengan orang dekat?

Hendrik: Kalau berduaan tidak pernah. Saya rasa, kebetulan dia adek semester saya (pacaranya) juga sudah dua tahun kami merayakan Natal bersama-sama bersama temana-teman.

HM: Ada nggak tradisi Anda pulang kampung ketika Natal tiba?

Hendrik: Kebetulan dua tahun kemarin tiap tahun saya pasti pulang.

· Rudyanto Banjarnahor, wirausaha di Pondok Hijau.

HM: Menurut Anda apa makna Natal itu?

Rudyato: Kalau menurut saya makna Natal itu bisa di bilang mengenang atau pun merayakan kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

HM: Sejarah Natal itu seperti apa?

Rudyanto: Sejarahnya ya. Sejauh yang saya tahu, adalah hari yang suci, hari yang berbahagia—juru selamat Tuhan kita juru selamat Kristus datang ke dunia.

HM: Apa suka duka yang pernah dialami saat merayakan Natal?

Rudyanto: Sukanya iya. Cotohnya tahun kemarin, terus terang saya berterimah-kasih pada Tuhan—pas malam Natal waktu saya mau gereja usaha saya rame-rame. Cuma saya ingat ini hari Natal saya nggak mau ke goda dengan itu. Itu salah satu godaan ya. Jadi tahun kemarin segaja saya tutup biarpun rame—sebagai seorang Kristian, apalagi ini sebagai salah satu sejarah yang harus kita kerjakan. Saya tutup usaha saya saya langsung ke gereja.

Narasumber:

  1. Indra Astari Simanullang, lahir di Jakarta. Alamat di Kecamatan Bekasi Timur, Kelurahan Aren Jaya.

(bere)

  1. Eny Modesta Lumbangaol Alamat Jalan Rasamala I Bok C No. 899. RT/RW 016/10. Kode Pos 17113. Kelurahan Margahayu, Bekasi. (boru)

  1. Hendrik Sigalinging seorang pemuda Marbun (bere)

  1. Rudy Anto Banjarnahor wirausaha.

Tidak ada komentar: