Batu nap ir, Tambak na timbo, siapakah orang Batak (Toba) yang tidak akrab dengan istilah itu? Bukankah batu na pir, tambak na timbo, tugu, atau apapun lagi sebutannya, adalah lambang prestisius, simbol sukses, simbol kemakmuran, martabat kehormatan bagi marga, persatuan marga, garis kerabat atau keturunan ompu ni si adui..? Makin menjulang tugu, makin mengkilap batu na pir, makin besar tambak na timbo, makin membaha simbol dan aksesorinya, makin membusung pula dada, makin sumringah seluruh jaringan antar generasi baik yang sudah almarhum ratusan tahun lalu bahkan hingga yang akan almarhum tahun-tahun kemudian.
Seantero Toba Holbung dan Samosir, bahkan hingga ke Rura Silindung -Pahae, apakah yang paling meriah dan sumringah untuk disaksikan di sisian jalan, di puncak-puncak bukit, di hamparan sawah gersang, kecuali simbol prestise dan lambang sukses kemakmuran ekonomi yang semu? Bukankah di wilayah kultural itu, ditanam beton bertulang menjulang megah melebihi megahnya rumah orang hidup yang manapun di sekitarnya? Bahkan kalau ada perlombaan, manakah yang lebih banyak tumbuh, pohon hijau, ataukah pohon beton terutama di seantero bona pasogit Toba Holbung-Samosir-dolok Sanggul-Rura Silindung dan sekitarnya? Dengan mudah kita bisa menjawabnya.
Saya pernah melongok di sekitar Porsea, suatu kompleks makam batu na pir, tambak na timbo, megah sumringah, komplit dengan taman dan hiasan patung kuda, jerapah, rusa, dll, dan sudah barang tentu, bangunan megah beton cor dilapisi marmer kelas wahid, dihiasi sebangunan rumah adat. Dan amangoi amang…. lengkap dengan aliran listrik. Rupanya dunia gelap banua toru itu perlu diberi penerangan listrik berpendar supaya penghuninya tidak diam dalam kegelapan. Sementara, rumah-rumah reyot di perkampungan sekitar tambak na timbo itu, dimana masih berdiam orang-orang hidup, sebagian besar tinggal dalam kesuraman, kegelapan, karena mereka tidak punya jaringan listrik. Alamaak….. rumah tempat orang mati diterangi cerlang cemerlang, rumah tempat orang hidup suram gelap.
. Tugu, tambak na timbo, batu na pir. Tradisi, serta nilai-nilai budaya macam apakah sesungguhnya yang mengabsahkannya? Adakah dalam sejarah kebudayaan Batak sejak zaman Pusuk Buhit Sianjur Mula-Mula , masa “splendid isolation”, sampai kedatangan para misionaris ada penghormatan atas kematian leluhur semegah ini?
Justru disana uniknya. Batu na pir, tambak na timbo, tugu, atau apapun namanya dalam upacara mangongkal holi, justru mendapat legitimasi pada akidah agama. “Patik Palimahon” katanya, “Ingkon pasangaponmu do natorasmu”…… Lha dhalah, sungguh se-verbal itukah pesan perintah Tuhan dijabarkan dalam konteks kultural membangun tambak na timbo, batu na pir?
Simbol penghormatan itu itu menjadi kegenitan tersendiri.
Jangan tanya berapa biaya membangun tambak na timbo atau batu na pir itu. Demi pengormatan kepada ompu dan natua-tua, apalah artinya uang ratusan juta? Bukankah uang seberapapun tidak ada artinya demi suatu kebanggaan, prestise bagi komunitaas na sa ompu? Maka biarkanlah pesta tujuh hari tujuh malam demi meresmikan tambak, upacara mengongkal holi, menempatkan tulang belulang para ompu nahinaan ke tempat yang lebih terhormat, dan memeliharanya secara terhormat pula.
Menghormati orang mati?Wow… nilai budaya manapun punya tradisi penghormatan terhadap orang mati. Bahkan tradisi ziarah mendapat pembenaran dalam tradisi agama. Tapi menghormati orang mati dengan menomorduakan orang hidup, mungkin itulah perkara kultural yang layak digugat.
Tradisi, nilai-nilai budaya manakah dalam kultural Batak yang paling Batak sekalipun yang diteruskan dalam upacara mangongkal holi itu? Sejak kapankah gerangan tradisi semegah itu ada? Mungkin suatu pertanyaan menarik. Bagi yang pernah menyimak semua buku yang pernah ditulis mengenai Batak atau Batakologi – meminjam istilah Warneck—mangonggkal holi, panaekhon saring-saring tu batu na timbo, atau batu na pir, di masa lalu, dimanakah gerangan ditemukan? Nilai-nilai macam apakah yang membenarkannya?: Apakah karena Patik Palimahon? Kalau benar demikian, betapa tradisi Kristen inilah mungkin satu-satunya yang mengabsahkannya. Tapi apakah gereja mengakuinya? Sepanjang pengetahuan saya, HKBP atau gereja lainnya sampai saat ini tidak punya kebijakan mengabsahkan upacara mangongkal holi. Entah pula kalau ada yang berubah. Yang jelas, meski beberapa dari para Ompu yang mungkin sudah almarhum ratusan tahun yang lalu, yang boleh jadi masih menganut parmalim, namun ketika saring-saringnya diangkat ke Tambak na Timbo, di makam yang megah itu tanda salib dengan kutipan ayat-ayat injil pastilah ada. Kata teman saya: dung pe mate ompung i, gabe Kristen, hape ditinggi mangolu so hea tardidi. Saya tersenyum kecut. Ironis..
Membangun tugu kematian menjulang kelangit, menggenapinya dengan berbagai aksesoris yang bahkan tidak punya konteks kultural Batak sekalipun, meresmikannya dengan puluhan ekor kerbau atau lembu atau apapun, adakah itu perintah nilai-nilai kultural Batak demi penghormatan atas leluhur ataukah perintah apa?
Di salah satu pojok lapo tuak di Pangururan beberapa tahun lalu, seseorang berkata lirih:
Ai holan angka na mate do diboan angka namora sian pangarantoan tu Bona Pasogit on. Dirimpu do holan ingananni angka na mate bona posogit on.
Pilu mendengarnya, ketika sejauh mata memandang, di seantero bona pasogit, bukit gersang, gundul, keropos, kemiskinan yang meradang, pemukiman yang reyot, tapi ribuan bangunan baru beton bertulang bertumbuh dan makin bertumbuh.
Tugu kematian ditengah kemiskinan, alangkah sempurna ironi budaya itu.
<<< >>>
(Penulis, adalah Guru besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Airlangga,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar