Kamis, 03 Juli 2008

Opera Tony Prabowo&Libretto Gunawan Muhamad

*) Oleh Jeffar Lumban Gaol
"Kali"adalah buah karya Komponis Tony Prabowo , belum lama berselang dipentaskan di Amerika , juga "King Wich" . Libretto "Kali" dan "King Wich" keduanya ditulis oleh Gunawan Muhamad . "Kali" mengambil cerita dari Dirah/Ratna Manggali , yang lebih dikenal di Bali sebagai "Calon Arang" , biasanya dipertunjukkan sebagai rangkaian Upacara keAgamaan di Pura Dalam ketika bulan Tilem (gulita) .

Dengan dukungan chorus "Batavia Madrigal" solis soprono Nyak Ina Resuki , Binu D Sukarman , Stefanie Griffith alto biola , Adelaide Simbolon Piano serta duo perkusionis dari Yogyakarta .Ditangan seorang Avip Priatna sebagai Konduktor , mereka mampu menerjemahkan nuansa magis dari score partitur yang ditulis oleh Tony Prabowo tersebut , baik dinamika , pitch , instrumentasi yang efisien dalam struktur yang menolak tonalitas , pada setiap frase maupun bagian(part) , yang lazim disebut sebagai ATONAL .

Sejak Wagner yang kesohor dibidang Opera itu , memeras Tonalitas secara habis-habisan , seorang Schoenberg pun memulai evolusi dari Tonalitas ke Atonalitas .
Meskipun "Tristan und Insolde" karya Wagner menjadi bingkai "Verklene Nacht"nya Schoenberg itu , namun tehnik Harmoninya sudah dalam bentuk Atonal . Pada tahun 1909 Schoenberg melanjutkan konsep Atonal tersebut , dalam karya Opera "Pierrot Lunaire" .

Dalam rentang waktu hampir seratus tahun kemudian , Tony Prabowo&Gunawan Muhamad bersama-sama melahirkan Opera "Kali"&"King Wich" , yang musiknya dalam format Atonal .
Sebelum menulis "Kali", Tony&Gunawan Muhamad merasa perlu mencermati "Calon Arang " secara langsung . Mereka menyewa "Calon Arang " itu di Ubud Bali , bisa jadi Tony&Gunawan Muhamad sebelum itu , pernah menonton "Calon Arang" yang dipentaskan untuk Upacara di "Pura Dalam"ketika bulan tilem itu , sebagai pengalaman pribadi .
"Calon Arang" memang kaya akan Dramaturgi . Pertentangan hitam&putih , baik&buruk , terbuka dan kuat dijadikan inspirasi "Libretto" untuk sebuah Opera .

Untuk penulisan "Libretto" , "Dramaturgi" tidak dapat dilepaskan begitu , "Dramaturgi" sudah harus menjadi bagian yang menyatu , dalam karakter Tokoh , teks , lyrik dan setting cerita . Memproduksi sebuah "Opera" adalah kerja besar , dana yang besar , bergengsi dan berklas tersendiri dalam khasanah dan perkembangan musik sejagat . Dengan kompleksitas perpaduan dari banyak disiplin seni:Musik , Puisi , Aktor , Tari , disain stage , costum , bahkan Multimedia juga merasuk dalam Opera-Opera Modern .

Namun rupanya Tony&Gunawan Muhamad tidak ingin terjebak pada Orientalisme"Eksotisme" . Ini terlihat pada penggunaan Format Musik&Artistiknya , tidak sedikitpun menyentuh unsur seni Tradisi Bali maupun Jawa dalam pengertian artificial . Mereka ingin Esensi dari Tradisi itu yang diletakkan dalam konteks Libretto Opera Moderen . Banyak sekali Komponis yang bekerja sama dengan serang penulis "Libretto" , adakalanya si Komponis memesan "Libretto" itu dari seorang penulis yang piawai , antara lain "Pietro Metastasio" (1698-1782) yang menulis untuk , A .Scarlatti , Hasse , Handel & Mozart ." Arrigo Boito" (1842-1918) yang menulis untuk Verdi antara lain , Otello dan Falstaff dan banyak lagi yang lain .

Namun ada juga Komposer yang menulis teks "Libretto" untuk karyanya sendiri .
Richard Wagner adalah orang pertama yang memulai latihan menulis teksnya sendiri , cara ini kemudian diikuti oleh ;Cornelius , Pfitzer , Schreker , Menotti dll .

Proses kreatif yang cukup lama antara Tony Prabowo&Gunawan Muhamad dimulai dari "Kala Bendu" dan "Asmara Dana" , karaya musik untuk tari dengan Koreografi Laksmi Noto Kusumo . Pada periode awal tersebut , Tony bereksperimen dengan Electro Akustik , menggunakan materi "Gender Jawa" dan Vokal yang direkam dalam pita analog 1/4 inch dalam 4 track , kemudian diolah dengan cara memotong dan menyambung dalam sequence atau frase , lalu dicopy ulang ke pita baru sambil memainkan speed , reverse/terbalik , atau loop , juga colour sound dengan esoseriesnya . Pada Asmaradana Tony memunculkan banyak Perkusionis dan solo Flute .

Hal yang tak kalah penting adalah kehadiran solo soprano Vokal , yakni Nyak Ina Resuki yang akrab dipanggil Ubiet . Hampir semua karya Tony Prabowa yang mengunakan Vokal , pasti melibatkan Ubiet . Maka tak heran kalau hasil proses panjang itu menemukan bentuk "Legatura"(cengkok)yang menjadi salah satu ciri karya Tony .

Keinginan Tony untuk merambah ke Eropah , mungkin saja memberinya peluang untuk bekerja sama dengan "Pierre Boulez" sebagai mana halnya Karya Frank Zappa "Yelow Shark" yang dimainkan Ansemble Modern Frankfurt dengan Konduktor "Pierre Boulez"
Sejumlah komposer merasa terhormat apabila komposisinya dikonduktori oleh Boulez , dikarenakan oleh reputasinya yang sangat disegani didunia Musik Modern/Kontemporer , baik sebagai Komponis maupun Konduktor . Bisa kita bayangkan andaikata Tony&Gunawan Muhamad berhasil menggaet "Pierre Boulez" sebagai Konduktor "Kali"&"King Wich" yang dipentaskan tidak hanya di Eropah dan America , tetapi juga dipentaskan di Amphi Theater "Candi Prambanan " sebagai jawaban terhadap "Megalitikum Kwantum" , semoga.***

*)Penulis adalah pemusik dan pengamat musik.
E_mail:

Tidak ada komentar: