Dengan dukungan chorus "Batavia Madrigal" solis soprono Nyak Ina Resuki , Binu D Sukarman , Stefanie Griffith alto biola , Adelaide Simbolon Piano serta duo perkusionis dari Yogyakarta .Ditangan seorang Avip Priatna sebagai Konduktor , mereka mampu menerjemahkan nuansa magis dari score partitur yang ditulis oleh Tony Prabowo tersebut , baik dinamika , pitch , instrumentasi yang efisien dalam struktur yang menolak tonalitas , pada setiap frase maupun bagian(part) , yang lazim disebut sebagai ATONAL .
Sejak Wagner yang kesohor dibidang Opera itu , memeras Tonalitas secara habis-habisan , seorang Schoenberg pun memulai evolusi dari Tonalitas ke Atonalitas .
Dalam rentang waktu hampir seratus tahun kemudian , Tony Prabowo&Gunawan Muhamad bersama-sama melahirkan Opera "Kali"&"King Wich" , yang musiknya dalam format Atonal .
Untuk penulisan "Libretto" , "Dramaturgi" tidak dapat dilepaskan begitu , "Dramaturgi" sudah harus menjadi bagian yang menyatu , dalam karakter Tokoh , teks , lyrik dan setting cerita . Memproduksi sebuah "Opera" adalah kerja besar , dana yang besar , bergengsi dan berklas tersendiri dalam khasanah dan perkembangan musik sejagat . Dengan kompleksitas perpaduan dari banyak disiplin seni:Musik , Puisi , Aktor , Tari , disain stage , costum , bahkan Multimedia juga merasuk dalam Opera-Opera Modern .
Namun rupanya Tony&Gunawan Muhamad tidak ingin terjebak pada Orientalisme"Eksotisme" . Ini terlihat pada penggunaan Format Musik&Artistiknya , tidak sedikitpun menyentuh unsur seni Tradisi Bali maupun Jawa dalam pengertian artificial . Mereka ingin Esensi dari Tradisi itu yang diletakkan dalam konteks Libretto Opera Moderen . Banyak sekali Komponis yang bekerja sama dengan serang penulis "Libretto" , adakalanya si Komponis memesan "Libretto" itu dari seorang penulis yang piawai , antara lain "Pietro Metastasio" (1698-1782) yang menulis untuk , A .Scarlatti , Hasse , Handel & Mozart ." Arrigo Boito" (1842-1918) yang menulis untuk Verdi antara lain , Otello dan Falstaff dan banyak lagi yang lain .
Namun ada juga Komposer yang menulis teks "Libretto" untuk karyanya sendiri .
Proses kreatif yang cukup lama antara Tony Prabowo&Gunawan Muhamad dimulai dari "Kala Bendu" dan "Asmara Dana" , karaya musik untuk tari dengan Koreografi Laksmi Noto Kusumo . Pada periode awal tersebut , Tony bereksperimen dengan Electro Akustik , menggunakan materi "Gender Jawa" dan Vokal yang direkam dalam pita analog 1/4 inch dalam 4 track , kemudian diolah dengan cara memotong dan menyambung dalam sequence atau frase , lalu dicopy ulang ke pita baru sambil memainkan speed , reverse/terbalik , atau loop , juga colour sound dengan esoseriesnya . Pada Asmaradana Tony memunculkan banyak Perkusionis dan solo Flute .
Hal yang tak kalah penting adalah kehadiran solo soprano Vokal , yakni Nyak Ina Resuki yang akrab dipanggil Ubiet . Hampir semua karya Tony Prabowa yang mengunakan Vokal , pasti melibatkan Ubiet . Maka tak heran kalau hasil proses panjang itu menemukan bentuk "Legatura"(cengkok)yang menjadi salah satu ciri karya Tony .
Keinginan Tony untuk merambah ke Eropah , mungkin saja memberinya peluang untuk bekerja sama dengan "Pierre Boulez" sebagai mana halnya Karya Frank Zappa "Yelow Shark" yang dimainkan Ansemble Modern Frankfurt dengan Konduktor "Pierre Boulez"
*)Penulis adalah pemusik dan pengamat musik.
E_mail:jffrlumban@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar