Opini
Oleh Hotman Jonathan Lumbangaol
22-Mei-2008, 10:08:08 WIB - [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Setelah 100 tahun kebangkitan nasional diperingati, apakah semangat nasionalisme itu masih menggugah kita? Atau, benarkan nasionalisme itu mulai luntur?
Dalam Bhineka Tunggal Ika temuan Mpu Tatular dalam kakawin berumur 6600 yang diadopsi dari prosa (parwa) bahwa, kata Bhineka Tunggal Ika (biar berbeda-beda tetap satu jua) dijadikan bapak-bapak pendiri Republik ini sebagai pengikat. Dari kegelapan sejarah dan ditabalkan menjadi semboyang negara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat kesatuan itu tercantum di bawah burung Garuda Pancasila. Orang Bali mengenalnya “Tan Hana Dharman Mangrwa” disuling dari buku Sutasoma (Arjunawijaya) yang ditulis Mpu Talular pada tahun 1367, meneguhkan Pancasila yang diambil dari Negarakertagama temuan Mpu PraPanca tahun 1365. Kitab ini disinyalir menyajikan semangat kepahlawanan dan jiwa nasinolisme. Terbukti saat patih Gajah Mada mengabdi pada Majapahit, berupaya mempersatukan Nusantara.
Semangat Pengkotak-kotakan
Berbicara nasionalisme, tentu sejak dulu selalu diterpa serpihan pengkotak-kotakan. Ada yang menyebutkan pondasi nasionalisme itu muncul ketika Sareket Islam dibentuk H.O.S Cokroaminoto dan kawan-kawan, dan Boedhi Oetomo.
Konon dari sanalah nasionalisme Soekarno mekar ketika mendengar rapat-rapat SI di rumah H.O.S Cokroaminoto.
Padahal, tahun 1905 Syarikat Islam (SI) dibentuk bukan untuk mendorong kemerdekaan—tetapi perjuangan untuk perdagangan yang berlabel agama. Demikian hal-nya Boedhi Oetomo (BO) hanya gerakan kebudayaan ke-jawa-an. Dalam perjalannya pun tidak pernah berhasrat mengusung Indonesia merdeka, tetapi hanya memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi orang Jawa dan Madura. Bisa disebut perjuangan yang sama tidak mengugah nasionalisme, melainkan sukuisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja.
Terbukti, di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertera, tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. Hal tersebut membuat Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo menyadari kekeliruannya. Semenjak BO lahir pada tanggal 20 Mei 1908, hingga 31 tahun kemudian, gerakan ini pun tidak mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Gerakan ini sangat tertutup dan tidak mau menerima anggota dari luar Jawa serta menginginkan bahasa suku, semangat pengkotak-kotakan. Lucunya gerakan ini dianggap menjadi tiang pancang kebangkitan nasional. Yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HarKitNas) yang sejak tahun 1948 selalu diperingati.
Teologi Kebangsaan
Meminjam istilah Yonky Karman, teolog dan doktor Perjanjian Lama di Kompas (9/5) mengatakan, Kekitaan (terbuka) merosot menjadi kekamian (tertutup). Kekamian dibayangi kehadiran orang lain sebagai saingan. Berbagai komunitas berbeda dibiarkan berdampingan, tetapi tanpa bersinggungan (monokulturalisme majemuk), tanpa saling sapa dalam konteks berbangsa.
Menurut Yonky, Kebangkitan agama-agama di Indonesia belum berdampak positif terhadap rasa nasionalisme. Agama sering dijadikan propaganda. Akhirnya, rasa nasionalisme itu hanya kata sampelan. Agama kadang kalah mengkotak-kotakan. Lunturnya nasionalisme, membangun tembok-tembok pemisah.
Padahal, negara ini dibangun di atas kebangsaan (nasionalisme). Bangunan republik menjadi goyah saat semangat nasionalisme itu menjadi lemah. Jika kita terus mengedepankan sukuisme dan mengabaikan spirit nasionalisme.
Mahatma Ghandi pernah mengatakan, bahwa agama adalah masalah pribadi yang harus dipisahkan dari politik. Bila aku menjadi diktator, maka agama dan negara saya pisahkan. Saya meyakini agama saya dan karena itu saya siap mati untuknya. Namun itu masalah pribadi saya, dan negara tak perlu mencampurinya.
Nasionalisme harus keluar dari kesempitan pengkotak-kotakan seperti, sukuisme dan agama. Agar orang lain bisa membuka diri diluar kelompoknya. Ibarat benang kusut, harus sabar merunutnya, mencari akar masalahnya. Semangat 100 tahun kebangkitan nasional tentu mengugah dan memperteguh kesatuan dan persatuan kita sesama anak bangsa. Tetapi, jika NKRI terus menerus dirongrong oleh fanatisme atau menghidupi semangat pengkotak-kotakan, maka tentu rasa nasionalisme itu bisa membuat keterpurukan.
Maka, dari cerita di atas, masih pantas rakyat Indonesia setiap tahunnya memperingati 20 Mei sebagai hari Kebangkitan Nasional?
Menghadapi penjajah ternyata lebih mudah dibandingkan dengan menghadapi sukuisme, dan lunturnya nasionalisme dalam tubuh bangsa. Sebab, nasionalisme kita sudah luntur atau dilanda goncangan gempa sukuisme.
Penulis adalah jurnalis dan aktivis pemuda.
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com
| |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar