Kamis, 26 Juni 2008

Membaca Baru Menulis

Opini


Dilema Penulis Awam "Penulis Juga Manusia"
Oleh Cheya

21-Mei-2008, 14:17:29 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Setiap apa yang dipikirkan, setiap apa yang ditulis, setiap apa yang diucapkan, setiap apa yang kita lakukan, kelak pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Bila tulisan itu membawa kebaikan tentu saja ia tersenyum dan bersyukur, namun apa jadinya bila sebaliknya?

Kadang, penulis ingin berbagi hal yang ia temukan dalam proses hidupnya, namun tak jarang menimbulkan pro dan kontra. Tentu saja hal ini menarik, karena tulisan itu bisa menimbulkan respon. Bila tulisan itu bagus, ada yang menyanjung. Namun bila dia melakukan kesalahan, mungkin lebih banyak kritikan daripada sanjungan yang pernah diterimanya. Reaksi seperti itu, mau tidak mau, yah, diterima saja dan mungkin lebih baik bila diambil positifnya. Bisa saja dengan kritikan itu membuat kita mempunyai pandangan dan inspirasi baru. Sebenarnya seorang penulis tidak gila akan pujian. Karyanya dibaca itu sudah cukup. Namun, jauh dalam hatinya ia juga mengharapkan pengertian sebagai sesama manusia dimana ia juga makhluk yang tak luput khilaf. Jadi... jangan tuntut ia untuk selalu sempurna meski dalam tulisanya, ia pernah membawa sebuah pesan.

”Menjauhlah dari orang-orang yang mencoba mengecilkan ambisimu. Orang-orang kerdil selalu melakukan hal itu, hanya orang-orang besar sejati yang membuatmu merasa mampu menjadi orang besar.” (Mark Twain, Sastrawan Amerika, 1835 – 1910)

Penulis awam hanyalah manusia yang menguraikan pikiran dan perasaan kemudian membagikannya pada dunia meski kadang hal itu tidak bersifat komersil. Kadang pernah si A menasehati si B, alangkah lebih baiknya bila seperti ini seperti itu. Namun diwaktu yang lain ia melakukan kesalahan seperti si B. Nah, apakah penulis tersebut bisa dikatakan munafik? Tentu saja tidak selalu seperti itu. Misalnya saja dalam hal keimanan, dimana seorang penulis pernah menasehati si A untuk sholat tepat waktu, namun diwaktu yang lain ia pernah menunda sholatnya. Nah, bagaimana kita menyikapinya? Apa kita pantas mencacinya habis-habisan? Atau membicarakannya dengan orang lain? Tentu saja tidak. Keimanan seseorang itu seperti tubuh... seperti hati... yang bisa berfluktuasi.

Menurunnya kondisi tubuh bisa terlihat mata ketika tubuh menunjukkan bukti-bukti fisik seperti demam, batuk, flu dsb, sedangkan bukti non fisikna seperti penyakit maag, kanker ganas ditubuh atau rematik yang tak terlihat mata secara langsung. Pada hati, kondisi itu menurun terlihat dari bukti fisik seperti kelopak mata yang cekung karena kebanyakan menangis, seperti tubuh yang kurus karena tidak nafsu makan dsb. Sedangkan non fisiknya? Tentu saja pada hatinya dan cuma dia sendiri yang benar-benar bisa merasakannya. Sedangkan pada keimanan, kondisi menurun terlihat dari bukti fisik seperti sholat yang tidak setepat dulu, puasa yang tidak serajin dulu dsb. Dan bukti non fisik lainnya seperti rasa malas untuk beribadah.

Dalam contoh diatas, mungkin ketika ia menasehati si B, keimanannya sedang naik, namun diwaktu ia menunda sholat keimanannya sedang menurun. So, kalau si B mengetahui hal itu alangkah lebih baiknya bila mengingatkan si A dengan cara yang baik. Bukankah kita semua adalah saudara yang harus saling mengingatkan?

Jangan memandang sebuah tulisan dari orang yang menulisnya... jangan memandang siapa yang menyampaikannya. Dan jangan membandingkan tulisannya dengan sikapnya kemarin atau saat ini, akan tetapi lihatlah apa yang disampaikannya. Adakah maksud yang dapat diambil? Permisalan yang lain, seorang penulis pernah berkata pada temannya "Sabar yah...ujian itu ada karena Allah sayang ama kita" Namun diwaktu yang lain ia mendapat pendingin hati yang tak jauh berbeda dari sahabatnya dengan kalimat indah "Allah kasih ujian karena Ia sayang pada makhlukNya, apa tidak mau disayang olehNya?"

Bila penulis menitikkan air mata dan mendapat kembali kata-kata yang kurang lebih pernah ia berikan pada orang lain, maka... jangan salahkan dia... penulis juga manusia... penulis juga pernah terluka... penulis juga pernah khilaf... dan jangan menuntut penulis untuk selalu tetap tersenyum... atau selalu berpijak dipuncak ketegaran demi kekagumanmu! Kadang... dari ketulusan air mata itu ia menyentuh hati orang lain dengan ijinNya dan dari air mata itu pula, kebahagiaannya bisa terasa lebih berharga.

“Hanya manusia yang merasakan keputusasaan puncak yang mampu merasakan kebahagiaan yang sempurna.” (WilliamTrevor)

Kadang, saya sendiri malu bila hati dan pikiran bertemu dengan tulisan yang pernah saya tulis atau yang akan saya tulis. Saya bercermin dengan diri saya sendiri dan hati saya pun berkata "Ya Allah... betapa hambaMu ini masih terlalu banyak yang harus diperbaiki" :(( hingga tak hanya malu dengan Allah, namun juga malu dengan diri saya sendiri. Kadang pula, meski dalam hati tak terbesit riya, sok dewasa, sok alim... (Semoga Allah menjaga hati kita dari segala penyakit hati), namun ada juga yang punya pikiran seperti itu. Saya menghargai banyak reaksi, apapun itu. Namun, sejauh ini saya tak ingin berhenti menulis lantaran reaksi negatif tersebut. Saya percaya pada Allah dan hanya Ia yang lebih mengetahui isi hati hambaNya. Saya tidak akan berusaha mencari pembenaran diri bila itu masih saya rasa kurang perlu. Saya hanya berusaha mencari jalan agar Allah ridho meski hanya lewat tulisan.... meski dengan cara yang cukup awam... meski dalam bentuk yang cukup kecil.

Bila ada kebaikan dalam tulisan itu, maka kebaikan itu berasal dari Allah dan hambaNya hanya perantara. Bila ada kekhilafan, maka khilafnya itu berasal dari manusia. Nasehat itu ada karena Allah... karena Allah... dan karena Allah... Saya rasa, hampir penulis awam merasakan dilema antara menulis sesuatu atau tidak. Jangankan penulis awam, hampir kebanyakan penulis senior aja hampir merasakannya. Misalnya, para wartawan yang ingin mengungkap suatu kebenaran, namun karena hal-hal tertentu ada tulisan yang harus tak ter-publish.

Mari kita belajar dari pengalaman hamba Allah yang bernama Luqman Hakim. Pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, sedangkan anaknya berjalan dibelakangnya. Melihat tingkah laku Luqman itu, ada orang yang berkata, 'Lihat... itu orang tua yang tidak punya hati, anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu membiarkan anaknya di atas himar itu. Melihat hal itu, orang di pasar pun berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya dengan nyaman menaiki himar, sungguh kurang sopan anak itu." Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun ikut naik ke atas dan duduk dibelakang anaknya. Kemudian ada yang berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, bukankah itu menyiksa himar." Karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikendarai." Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihati anaknya tentang sikap manusia dan memberi komentar pada mereka. Ia berkata, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu." Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."

Hikmah: Pandangan orang itu berbeda-beda. Ada yang pro dan kontra. Jadinya wajar bila sikap kita sering tidak ada benarnya dimata setiap orang. Cukuplah hanya Allah tempat kita meminta pertimbangan. Wallahualam... Apapun tulisan itu... dan apapun yang telah, sedang dan akan terjadi... bagaimanapun juga... penulis juga manusia! ;p

“Ketegaran hati seorang penulis terlihat ketika ia berani memilih untuk berbagi dengan dunia... tentang sesuatu... Yang SANGAT DI HINDARINYA... SESUATU Y BISA MEMBUATNYA LEBIH TERLUKA...” (c-ya)

“Aku menulis bukan karena aku memahami dunia, melainkan karena aku tak memahaminya.” (Gerald Murnae)”

Dengan segala kerendahan hati, saya minta maaf bila ada hal yang kurang berkenan dihati saudara, karena sesungguhnya saya masih sangat awam dan masih jauh dari sempurna... (cheya)


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

Tidak ada komentar: