
Oleh James P. Pardede
Sekarang sudah saatnya kita merayakan Natal dengan penuh sukacita dan sederhana. Tak perlu dengan bermegah-megah menghamburkan uang demi sebuah acara, bukankah dalam Alkitab dengan jelas dikatakan bahwa kelahiran Yesus merupakan kelahiran seorang raja yang membawa Damai Sejahtera di bumi.
Kelahiran Yesus merupakan kelahiran yang ajaib dan sudah dinubuat sejak dahulu kala oleh para nabi, jadi Yesus yang lahir itu adalah Mesias yang diurapi dan juga disebut sebagai Imanuel atau Allah menyertai kita. Di dalam Mikha 5:1 juga sudah disebutkan bahwa Mesias itu akan lahir di kota Betlehem.
Para ahli Taurat dan imam-imam memberitahukan peristiwa ini kepada raja yang berkuasa pada waktu itu yakni Herodes perihal kelahiran Mesias ini. Selain itu di dalam Kejadian 49:10 juga disebutkan bahwa Mesias itu dilahirkan sebelum pemerintahan Yahudi dihancurkan. Sedangkan nabi Daniel, terutama di dalam Daniel 9:25 mencatat bahwa enam puluh sembilan kali tujuh masa akan berlalu sebelum Mesias disingkirkan dan pada waktu itu telah ditunjukkan sampai tuntas pada kematian Kristus.
Lalu, apa bedanya perayaan Natal yang dilakuakn oleh orang-orang di luar gereja dengan perayaan Natal orang-orang percaya ? Satu-satunya perbedaan yang paling mencolok adalah
Tuhan Yesus itu sendiri. Bagi orang di luar sana perayaan kelahiran Yesus boleh diartikan sebagai bisnis, politik atau hura-hura, namun bagi orang percaya semestinya perayaan Natal adalah suatu perayaan yang memproklamirkan ke dunia bahwa Yesus sudah lahir ke dunia ini, dan Dia diutus untuk meyelamatkan umat manusia dari dosa.
Menjelang akhir tahun, di seluruh dunia akan memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus, yaitu suatu kelahiran yang menandakan kedatangan Putra Bapa ke dunia, bagi segenap manusia. Ia sama seperti kita, dapat merasakan sakit saat dilukai, merasakan pedihnya kisah sengsara yang harus dijalaniNya hingga disalibkan dan mati bagi dosa manusia. Namun Ia tetap mau mencintai manusia sehingga damai tetap ada, bahkan tetap selalu dibagikanNya karena Ia datang ke dunia untuk membawa kedamaian.
Tuhan menciptakan setiap manusia baik adanya, termasuk hati yang ada dalam setiap jiwa. Namun didalam perjalanan hidup manusia, banyak diwarnai oleh banyak kisah dengan aneka rasa, hingga terdapatlah apa yang dirasakan sebagai degupan kebahagiaan, juga goresan kesedihan.
Manusia sangatlah mudah mengalami rasa sakit saat dilukai. Disaat manusia tetap menyimpan segala kesesakan itu didalam hatinya, akan menyisakan goresan luka dalam hatinya, membuat getaran bahagia yang pernah hadir takkan mampu lagi dirasakan, sukacita pun menjauh.
Karena terang kasih yang diberikan Tuhan tak dapat tinggal didalam hati maka tak dapat bersinar menyinari sekeliling. Yang nampak hanyalah sinar kesedihan yang akan terpancar ke luar. Hati adalah jendela sebuah jiwa. Maka seperti kisah lilin, kedamaian yang sudah Tuhan berikan bagi setiap manusia, yang secara khusus setiap malam Natal yang kudus, kita selalu diingatkan tentang kehadiranNya yang membawa damai.
Damai Tuhan tetap dicurahkan bagi kita, siapapun dan apapun keadaan kita, seperti halnya bulan yang akan tetap setia menemani malam untuk memberikan seberkas cahaya bagi bumi. Namun, adakah kita mau menerima damai itu didalam hati kita ? apakah kita mau memelihara kedamaian itu sehingga damai yang ada dalam hati kita dapat menjadi secercah cahaya baru yang mampu menerangi bumi yang kita pijak ini ?
Kita semua memiliki damai Tuhan dan kita pun diutus untuk menjadikan damai itu tetap ada didalam hati kita, untuk menjadikan bumi ini damai adanya seperti Tuhan Yesus yang datang kebumi untuk memberikan damaiNya bagi kita semua.
Jika melihat kondisi sekarang, banyak juga orang-orang tertentu yang menjadikan kekristenan telah menjadi industri yang menguntungkan bagi banyak orang. Banyak orang Kristen yang merayakan Natal dan menyambut Natal bukanlah menyambut bayi Yesus, menunggu-nunggu kedatangan Yesus, mempersiapkan kelahiran Yesus, melainkan orang hanya menyambut hari Natalnya.
Apakah yang kita persiapkan menjelang Natal tiba? Yah, kita cenderung mempersiapkan atribut-atribut natal, simbol-simbol Natal, fenomena Natal agar kelihatan fenomenal. Padahal, ada banyak orang Kristen merayakan Natal tidak lagi menyanyikan lagu-lagu Natal. Ada persekutuan atau gereja yang hanya menyanyikan lagu malam kudus sebagai lagu Natal, namun sisanya lagu-lagu umum biasa. Ada gereja/persekutuan yang tidak lagi memberitakan Kristus dalam kotbah Natal.
Natal ribuan tahun yang lalu dipersiapkan dengan sangat rapi, baik dan jauh-jauh hari. Ribuan tahun sebelum Yesus lahir para nabi telah bersiap-siap menyambut hari “H” itu tiba.
Setahun sebelum Natal malaikat Tuhan sudah di utus untuk mempersiapkan natal kepada Maria, Yusuf, Elisabeth dan yang lainnya. Sebelum Natal, malaikat Tuhan datang kepada para gembala dan orang majus, mereka menyanyikan pujian Natal.
Natal bukanlah industri yang canggih dengan pameran lampu-lampu bagus, baju-baju indah, kembang api dan terompet yang semarak. Natal merupakan “pameran” kilauan sinar wajah para malaikat, dengan baju jelek dan bau para gembala, dan dengan sinar bintang yang bercahaya di langit.
Natal berarti yang tidak terbatas rela menjadi terbatas, yang maha tinggi rela turun ke dunia, yang tidak berdosa rela dijadikan manusia yang menanggung dosa umatNya. Itulah Kristus. Natal berarti Kristus. Biarlah kita merayakan kehadiran Kristus ke dalam dunia, bukan sekedar merayakan hari Natalnya.
Bagaimana seharusnya yang terjadi di masa Natal ini? Seharusnyalah Natal membawa Damai.Mengapa? Karena melalui peristiwa Natal itu kita di ingatkan: pertama bahwa Allah telah melawat umatnya, artinya Ia telah datang dengan suatu tujuan melawat yaitu dengan kehadiranNya melalui Tuhan Yesus Kristus yang adalah Immanuel” “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita.(Matius 1:23).
Kedua Ia datang memberi kebebasan bagi yang tertindas dosa dan murka Allah, Ia telah menjadi pemberi Damai dan rasa Damai melalui kehadiran Bayi Yesus yang menjadi Juru Selamat yang membebaskan dari dosa-dosa kita semua.” Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamat-kan umat-Nya dari dosa mereka.” ( Matius 1:21).
Seperti renungan Natal yang disampaikan Pdt. Yafet R. Marbun pada acara Natal bersama Yayasan pendidikan Sultan Iskandar Muda Medan bahwa untuk menciptakan kerukunan harus rela memiliki sikap saling memberi, jangan main hakim sendiri dan tumbuhkanlah kasih. “Bila kasih mengalir seperti sungai di dalam kehidupan kita sehari-hari maka akan terciptalah kerukunan,” tandasnya.
Natal adalah kabar sukacita, kabar kesukaan dan kegembiraan. Itu sebabnya, lewat tema Natal “Hidup Rukun itu Indah” stop saling membeda-bedakan, stop demonstrasi yang merugikan banyak orang, stop kerusuhan dan mari hidup rukun.
“Kita semua selaku ciptaan Tuhan harus hidup rukun. Jangan lagi jadikan perbedaan untuk menyulut sebuah perpecahan,” tegasnya. Natal telah membawa damai sejahtera bagi kita semua. Kiranya Natal tahun ini membawa kedamaian, damai di hati damai di bumi.
sumber:http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1615:refleksi-natal


Tidak ada komentar:
Posting Komentar