SIAPAKAH KRISTUS?
oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG
19-21 September 2008; Pkl. 18.30 WIB
di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta
Siapakah Kristus? Revolusionis Masyarakat? Penghasut Massa? Penipu? Orang Gila? Anak Allah?
Mengapa dia mati disalib? Mengapa banyak yang menolaknya tetapi berjuta-juta orang rela mati baginya? Sharing Visi Misi 9 Januari 1957, hari itu pergumulan jiwa saya begitu berat. Menentukan apakah saya seumur hidup akan menyerahkan diri menjadi penginjil atau tidak. Lima tahun sebelum itu saya sudah menyerahkan diri. Waktu itu saya berumur 12 tahun, dan berkata “Seumur hidup saya mau menjadi hamba-Mu, dan tugas utamaku adalah memberitakan Injil di dalam sejarah manusia untuk memenangkan jiwa kembali ke Kerajaan Tuhan.” Lima tahun kemudian, secara perlahan saya mulai tertarik oleh Komunisme, Atheisme, Evolusionisme, Dialektika Materialisme, dan filsafat-filsafat yang paling modern, di mana sebaya saya banyak yang tidak tertarik. Saya sangat tertarik dan mulai terkontaminasi. Dan akhirnya, saya mulai membuang iman Kristen.
Saat itu ada seorang pendeta yang unik datang ke Indonesia. Pendeta itu seumur hidupnya memanggil orang menjadi hamba Tuhan. Saya menghadiri retreat yang dipimpin oleh Pendeta tersebut untuk menyenangkan hati mama saya. Hari itu menjadi pergumulan paling berat selama tujuh belas tahun saya hidup di dunia. Meskipun khotbah Pendeta itu menyentuh, namun iman Kristen sudah saya buang. Hanya mama saya, yang sejak saya berumur tiga tahun telah menjadi janda, tetap setia mendoakan saya. Apakah saya harus kembali kepada iman yang menurut saya saat itu sudah kuno, sudah digugurkan oleh ilmu, sudah ditolak oleh orang modern. Saya tidak berani dan malu berdoa di kamar, karena banyak orang ikut camp. Maka saya berlutut di kamar mandi, di atas ubin yang basah. Saya berdoa, “Tuhan kalau malam ini ternyata Engkau hidup, panggil saya dengan kuasa-Mu. Jika saya tidak sanggup melawan-Mu, maka saya akan seumur hidup setia sampai mati. Jikalau tidak ada panggilan jelas dan ternyata Engkau tidak bicara pada saya, saya akan lolos dan seumur hidup tidak lagi mengenal Engkau.” Dengan air mata saya bergumul kepada Tuhan. Lalu malam itu saya ikut kebaktian. Ada peserta yang bicara, tertawa, namun saya diam, tenang, dan serius. Saya mau melihat bagaimana Tuhan bekerja. Kursi seperti lebih keras dari biasa, suasana lebih dingin dari biasa, waktu lewat lebih pelan dari biasa. Atheismekah atau Theisme?, Pagankah atau Christian?, Komunismekah atau Kristen?, Evolusikah atau Creation? Ini adalah saat penentu. Disatu sisi ada orang-orang Kristen yang mencintai Tuhan, yang hidupnya sangat saya kagumi. Di sisi lain, fakta mengenai filsafat-filsafat mutakhir juga tidak bisa saya tolak.
Pendeta yang berkhotbah bagi saya berteriak-teriak mewakili teriakan terakhir sebelum Kristen mati. Teriakan yang mewakili status sebagai antek-antek Imperialisme yang merampas kebebasan manusia berpikir dan mempelopori racun barat untuk membuka jalan bagi meriam Imperialisme. Dengan mata yang miring saya melihat dia dan dengan sikap pertarungan dalam hati untuk menentukan nasib saya seumur hidup. Khotbah hari itu adalah mengenai lima suara,
Suara pertama adalah suara Allah Bapa. “Siapa yang boleh aku utus”, Firman-Nya. Lalu jawaban dari Yesaya, “di sini saya, utuslah saya.” Jawaban dari Tuhan Allah, “Saya akan mengirim engkau untuk memberitakan Firman yang tidak diterima oleh orang lain. Saya akan mengirim engkau pergi kepada bangsa-bangsa yang keras hati.” Wah ini paradoks sekali, tetapi kelihatan ada makna tertentu yang saya perlu pelajari lagi.
Suara kedua adalah suara Anak Allah yang berkata “Tuaian sudah masak, pergilah menuai sebelum waktu lewat dan pergi ke seluruh dunia kabarkan Injil jadikan segala bangsa muridku.” ini suara dari pada anak Allah,
Suara ketiga adalah suara Roh Kudus diambil dari Wahyu, mengenai barang siapa yang rela meminum air hidup akan diperanakkan pula, karena Injil adalah kuasa Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.
Suara keempat adalah suara Rasul. “Jikalau aku tidak mengabar Injil, celakalah aku,” kata Paulus. karena beban ini sudah diberikan kepada aku dan jika aku dengan rela mengerjakannya ada pahala bagiku, rela, terpaksa, terpaksa, rela, aku harus rela memaksa diriku untuk melayani Injil atau aku harus memaksa diri untuk rela melayani?, ini paradoks lagi.
Suara kelima adalah suara dari Neraka. ini yang membuat saya sangat terkejut. Saya tidak pernah mendengar ada suara pekabaran Injil dari neraka. Siapapun pendeta tidak mengkhotbahkan dari neraka ada orang memanggil manusia mengabar Injil. Dia mengambil ayat dari Lukas 16. Abraham disuruh mengirim orang pergi memberitakan Injil kepada saudara orang kaya yang dihukum, supaya mereka tidak datang ke neraka. Abraham mengatakan bahwa hal itu tidak bisa. Yang kaya mengatakan kalau Abraham meminta lazarus yang pergi, mereka akan percaya. Ini adalah strategi penginjilan dari neraka. Saran neraka, suara neraka, strategi neraka pakai mujizat orang akan percaya. Sekarang di dalam Kekristenan ada dua arus. Yang menekankan Firman dalam penginjilan, dan yang menekankan mujizat. Banyak pendeta sudah jatuh dalam takhyul, tanpa pakai mujizat tidak akan ada orang yang menerima Firman Tuhan. Abraham diminta kirim Lazarus, kalau kirim Billy Graham percuma, mereka tidak ada mujizat. Kalau Lazarus yang berkhotbah karena dia sudah bangkit daripada kematian, maka lima saudaraku menjadi percaya. Saran ini terlihat amat bagus, namun bukan strategi Tuhan. Kesulitan sekarang adalah pemimpin gereja tidak peka lagi strategi dari Tuhan. Ide yang disarankan dari neraka ditolak oleh Abraham, karena sudah ada Firman dalam dunia. Dialog berhenti, diskusi strategi antara neraka dan surga berhenti disitu, Alkitab tidak meneruskan lagi. Lalu kita melihat selama 2000 tahun penginjilan dilakukan ke seluruh dunia, melalui apa? Strategi sorga atau nereka?
Mujizat terbesar adalah melalui percaya kepada Yesus Kristus, orang berdosa bertobat, orang yang mati rohani dapat hidup kembali dan menjadi anak Tuhan yang jujur dan setia. Setelah mendengar khotbah itu, Roh Kudus bekerja dalam hati saya. Saya mulai bereaksi. Man is not what he thinks, man is not what he feels, man is not what he behaves, itu semua psikologi dunia yang kosong. Man is equal to what he reacts before God. You will be counted in eternity as what you react to God, when you’re living in this earth. Saya harus bagaimana bereaksi kepada Tuhan, akhirnya dapat suatu suara yang sangat dahsyat dalam hati. Kalau engkau tidak mengabarkan injil, maka engkau lebih kalah dari orang di dalam neraka, orang yang jatuh di dalam neraka masih mengharapkan saudaranya diselamatkan. Meskipun strateginya salah, tetapi keinginan mereka supaya saudara sekandung mereka diselamatkan lebih besar cinta daripada engkau yang tidak mengabarkan injil. Teguran yang dahsyat ini membuat saya sadar, dan akhirnya air mata mengalir terus, sampai pakaian depan semua basah kuyup. Saya berkata Tuhan, “Hari ini saya janji, seumur hidup menjadi hamba-Mu, mengabarkan Injil, dan setelah Tuhan menjawab semua pertanyaan saya, mengenai Evolusi, mengenai Atheisme, Dialektical Materialisme, Komunisme, saya akan ke seluruh dunia menjawab pertanyaan, kesulitan yang menghambat orang lain menjadi orang Kristen. Apologetika yang melayani penginjilan, dan theologi Reformed yang solid, menjadi satu senjata di dalam tangan saya untuk pergi menjelajah.
Sekarang sudah 51 tahun saya sudah pernah berkhotbah kepada kira-kira 30 juta manusia di dalam lebih dari pada 29 ribu kali kebaktian. Menjelajah kira-kira 600 kota di dalam 51 tahun. Dalam usia 68, saya masih naik kapal terbang satu tahun 300 kali, berkhotbah 500 kali, dan di antaranya kira-kira 40 hari minggu di Indonesia, negara yang saya cintai. Bagaimana berat pun, tetap harus menginjili. Kekristenan harus malu, karena bioskop memainkan cerita fiksi, namun tiap hari terus main. Gereja yang menyatakan kebenaran, tidak tiap hari mengabar Injil. Kepada Tuhan kita menyembah, kepada sesama saling mengasihi, kepada dunia kita menginjili. Jikalau gereja tidak menginjili lagi, maka fungsi eksistensinya berhenti dalam dunia ini. Itu sebabnya gerakan Reformed Injili diadakan, untuk memberitakan Firman yang berbobot, berkualitas, dan yang setia kepada Alkitab ke dalam, serta mengabarkan Injil yang murni dan setia keluar.
Apakah hari ini kita masih berbeban untuk penginjilan? Waktu di London tahun 1977, saya melihat satu iklan di muka sebuah bioskop mengenai pertunjukan berjudul Jesus Christ superstar. Tertulis dibawahnya sudah tahun ketujuh, tiap hari dipentaskan. Satu tahun 365 hari, tujuh tahun berturut-turut melawan Yesus dengan nama Jesus Christ superstar. Pementasan yang memfitnah Yesus adalah homoseks, maka semua muridnya laki-laki. Akhirnya seorang murid yang paling cinta pada Dia dan tidak berhasil mendapat cinta-Nya, menjual Dia dengan 30 uang perak. Film yang begitu rusak, yang demikian memfitnah Kekristenan, bisa main selama tujuh tahun dan tiap hari ada penonton. Adakah gereja yang berani mengatakan Jesus Christ is the true saviour of the Lord, setiap hari mengabarkan injil selama tujuh tahun?
Kita harus sedih, karena gereja yang mengabarkan Injil murni, Yesus Juru selamat, Kristus penanggung dosa, khotbah seperti ini sudah hampir hilang. Diganti dengan siapa percaya Tuhan akan mendapat mujizat, saya percaya Tuhan akan mendapatkan kesembuhan, saya percaya Tuhan akan menjadi kaya. Ini adalah theologi sukses, theologi berhasil, theologi makmur yang merajalela. Sedang theologi salib, theologi kebangkitan, theologi Kristus menjalankan hukuman mengganti manusia sudah hilang. Kita masih berani menamakan diri Kristen, pengikut Kristus, orang Injili, Alkitabiah.
Begitu banyak pemuda pemudi yang kita panggil, kemudian mereka mulai mengabarkan Injil. Namun setelah lulus dari sekolah theologi mereka menjadi tidak mengabarkan Injil. Saya sudah teriak ini di benua-benua yang lain berapa besar hukuman yang akan ditimpakan pada rektor-rektor dan dosen-dosen Theologi yang menjadikan orang yang suka mengabarkan Injil setelah belajar empat tahun menjadi tidak suka mengabarkan Injil, jangan melarikan diri dari teguran seperti ini karena orang yang menegur seperti ini, seperti apa yang kamu dengar hari ini sudah semakin sedikit. Kita mengutamakan yang bukan diutamakan oleh Tuhan, dan kita tidak mengutamakan yang diutamakan oleh Tuhan.
Saya harap dalam sepuluh tahun Jakarta bertambah tiga ribu gereja. Dan satu gereja kalau ada seribu orang, tiga ribu gereja baru tiga juta, sedangkan PBB menghitung Indonesia, ibukotanya setiap tahun paling sedikit tujuh ratus – satu juta manusia tambahnya, di dalam sepuluh tahun Indonesia dengan ibukota yang kira-kira lima belas juta manusia, sampai dua puluh juta manusia, berarti orang yang tambah di Jakarta sampai 2025 bisa tiga puluh juta, kalau sepuluh tahun tambah tiga juta, kita masih hutang, tetapi pendeta-pendeta di gereja tidak hitung, mereka hanya menghitung di gereja saya dulu tiga ratus sekarang lima ratus. Puji Tuhan, berarti sudah bertumbuh. Pertumbuhan itu dihitung persentasi berarti itu membuktikan kita masih belum mengerti kehendak Tuhan. Kita melihat, kalau bankir-bankir melihat perkembangannya mengikut pasaran berapa persen dia tahu, tapi pemimpin Kristen tidak sadar. Pendeta- pendeta menggembalakan satu juta orang Kristen di Indonesia, sudah dua puluh tahun, seluruhnya digabung tambah dua ratus ribu sudah senang, tapi penduduk tambah sepuluh juta. Yang menginjil tidak banyak, pertumbuhan makin merosot, inikah Kekristenan? Penginjilan yang dilakukan oleh saya sekarang mungkin mendapat tantangan lebih banyak, karena saya sudah mendirikan gereja. Namun dukungan tidak pernah dari manusia, dukungan selalu dari Tuhan. KKR yang saya pimpin tidak pernah menaruh alamat gereja saya, tak pernah umumkan kebaktian saya, karena penginjilan adalah untuk sekota. Dan setelah selesai, masing-masing bebas pergi ke mana saja, karena penginjilan bukan bermotivasi menambah anggota saya. Kita menginjili zaman kita, kota kita, bukan untuk mempekembangkan diri kita.
Saudara-saudara saya harap selama saya masih hidup, boleh terus memberitakan Yesus Kristus sungguh-sungguh Juru Selamat. Dia betul-betul Anak Allah, yang diwahyukan dan dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama. Dia yang menggenapi semua janji bagi umat manusia, dan satu-satunya penanggung dosa manusia. Dia satu-satunya yang mati bukan karena dosa sendiri, namun untuk menanggung dosa manusia. Dia satu-satunya yang bangkit daripada orang mati, karena kuasa-Nya melampaui kuasa maut dan kuasa dosa. Selain Dia, tidak ada juru selamat yang lain. Terakhir kali kita mengadakan KKR di Stadion Utama adalah tahun 2003. Saya mengundang Bapak Agus Lai (Pdt. Drs. Agus Lay) menjadi ketua. Saat itu saya ditegur oleh Tuhan, karena sebelumnya dua kali tema KKR saya adalah “Apakah ini makna hidupku?” dan sebagainya. Akhirnya suatu teguran dari Tuhan, kenapa tidak berani langsung katakan Yesus Juru selamat? Kenapa engkau harus pakai cara supaya menarik lebih banyak orang?, maka tahun 2003 saya mengatakan, temanya adalah “Yesus Kristus Juruselamat Dunia.” Saudara-saudara, biar Injil dikabarkan, saya hanya mau kita berdoa bersama, supaya kehendak Tuhan yang jadi, nama-Nya dipermuliakan, kerajaan-Nya tiba, kehendak-Nya terjadi, karena semua kuasa, kerajaan dan kemuliaan hanya dimiliki oleh Tuhan. Amin.
Tanya-Jawab
Mengapa mengabarkan Injil?
a. Will of God – Kehendak Allah. Kita harus melakukan kehendak Allah untuk selamanya. Calvin berkata selain Allah sendiri tidak ada yang lebih besar dari kehendak Allah. Segala sesuatu dicipta karena kehendak Allah mencipta.
b. Utusan Kristus, karena amanat agung dan diutus oleh Kristus.
c. Karena Roh Kudus memberikan kuasa untuk menyatakan Injil, menjadi saksiKu! Roh Kudus punya hal yang besar: membuat kita bertobat, berkuasa mengabarkan Injil, mengerti Firman Tuhan, berjalan dalam jalur yang benar. Pekerjaan Roh Kudus tidak bisa ditiru. Salah satu yang paling jelas dipenuhi Roh Kudus – memberitakan Injil.
d. Cinta Kasih Kristus menggerakkan kita.Tidak mungkin tidak dijalankan berhenti mengabarkan Injil. D. L. Moody berjanji setiap hari memberitakan Injil kepada satu orang, kalau tidak ia tidak bisa tidur. Moody pernah berkhotbah kepada ratusan juta manusia tanpa pengeras suara. John Wesley 1 tahun khotbah 1000 kali. Cinta Tuhan mendesak hamba-Nya pergi memberitakan Injil.
e. Kita utang Injil kepada orang lain. Baik kepada orang Yunani, Barbar, Intelektual, Sederhana. Di Roma, pada zaman Romawi Klasik, semua kebutuhan ada, tapi tidak ada Injil. Hanya di dalam Yesus Kristus dapat memahami akan Cinta Kasih. Kita menantikan kedatangan Kristus. Inilah kekuatan kita di dalam mengabarkan Injil. Jika Injil tidak dikabarkan ke semua bangsa maka hariku akan datang. Kuduskan dirimu dan mengabarkan Injil (I Yoh. 3).
Yang diharapkah hadir dalam KKR nanti, dari macam-macam gereja dan juga mungkin dari macam-macam agama?
Tuhan mencintai seisi dunia. Tuhan tidak memandang, jadi siapapun boleh dibawa. Seorang hamba Tuhan harus bersiap, berani dan sanggup berbijaksana di dalam menjawab semua pertanyaan dari orang yang melawan, yang tidak mengerti, atau yang ingin mengerti, atau yang antusias terhadap iman Kristen. Ini pendapat saya, karena evangelization should be serve by apologetic, apologetic should understand all kind of the different idea of other religion and ideology.
Mengerti theologi yaitu mengetahui isi hati Tuhan, mengerti filsafat mengerti cara pikir manusia, apologetika yang mengerti bagaimana cara berhadapan dengan semua pihak, ditambah evangelism yang dengan cinta kasih membawa mereka kembali, semuanya ini harus dirangkai menjadi satu. Jadi orang yang mau melayani Tuhan tapi tidak mau mengerti theologi akhirnya menjadi orang yang khotbahnya salah. Yang kurang mengerti filsafat berfikir manusia berkhotbah menggebu-gebu, tapi kurang mengerti kesulitan pikiran orang lain karena tidak mengetahui apa hambatannya. Orang yang tidak ada apologetika kurang lincah menghadapi tantangan.Sedang tanpa semangat penginjilan, apologetika tidak ada gunanya. Jadi empat hal ini harus bekerja sama.
Di dalam khotbah kita ada unsur yang membandingkan dengan bijaksana. Misalnya kalimat yang paling penting daripada Kong Fu Cu mengenai etika adalah “Yang kau tidak ingin diperlakukan, jangan memperlakukan kepada orang lain”, bagi saya ini kalimat salah satu paling penting di dunia. Tetapi Kristus mengatakan, “Yang kau ingin diperlakukan, lakukan kepada sesamamu”, ini bersifat positif. Hal ini memperlihatkan bagaimanapun tingginya kebudayaan manusia, dibanding daripada kalimat wahyu daripada Anak Allah, tetap Tuhan lebih melampaui. Yang mendengar khotbah saya, ditanamkan prinsip yang sangat penting dan agung. Sehingga dia bertahun-tahun bisa berpikir dan merenungkan. Suatu apologetika yang bersifat menanam. Untuk itu saya mempelajari berbagai isme, kebudayaan, agama dan filsafat, untuk menunjukkan bahwa Firman Tuhan melampaui semuanya. Kita mengabarkan Injil dengan berani,namun bijaksana.
Pertanyaan saya adalah sering kali KKR itu sukses luar biasa, tetapi kegagalan ada di follow up, sekarang pertanyaan saya untuk pak Tong, apakah bentuk follow up yang pak Tong pikirkan untuk KKR besar ini?
KKR kalau hanya gejalanya sukses, itu bukan sukses, itu cuma sukses main sandiwara, KKR yang kesulitan follow up tetapi bobotnya cukup maka Roh Kudus akan memfollow up di luar kemungkinan kemampuan kita. Saya membuktikan, setelah saya terima Tuhan tidak ada yang memfollow up saya. Tetapi karena Firman yang saya terima itu terus bekerja dan membuat saya makin haus akan Firman Tuhan, akibatnya saya lebih kuat dari banyak orang yang di follow up. Banyak yang follow terus, up-nya tidak ada. Itu sebab yang bekerja, yang menabur jangan takut tidak ada yang menuai. Yang menuai jangan sombong karena sebelumnya ada orang yang menabur. Dalam hal ini keseimbangan perlu kita jaga dan everybody do his part, dengan sungguh-sungguh.
Yang harus dikerjakan adalah: pertama setia, kedua tekun, ketiga penuh pengharapan serahkan kepada Tuhan dan doakan mereka. Follow up kalau kurang, maka kalau kita mau gereja Anda yang imannya kami anggap Injili, boleh cantum di dalam itu, gereja Reformed tidak usah, supaya mereka kalau mau ke gereja Anda tidak apa, asal seluruh Jakarta lebih banyak orang pecaya kepada Tuhan. Semua gereja dipertumbuhkan kita bersyukur, kami tidak untuk Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), GRII hanya membuktikan orang yang doktrin benar berhak mendirikan gereja, Biarlah kesetiaan dan ketabahan, kesabaran, ketekunan itupun menjadi bahan follow up. Di dalam education moral dan teladan guru itulah bahan pengajaran yang paling tekun, paling penting, bukan bahan dan kognitif. Kristus tinggalkan sesuatu yang tidak ada pada pendiri agama lain, yaitu dia hidup seratus persen suci. Dan Brown yang melelang Yesus dengan harga tiga ratus juta dollar, hanya membuktikan Yesus makin lama makin mahal lakunya, dulu zaman Yudas cuma tiga puluh perak sudah boleh jual Yesus, sekarang dilelang lagi makin lama makin mahal, seperti Christy, akhirnya yang dapat tiga ratus juta dollar masuk neraka tiga ratus juta kali dalamnya, lebih dalam daripada Yudas, itu saja, maka waktu Dan Brown punya Da Vinci melanda seluruh dunia, saya bikin cepat-cepat di tujuh kota akhirnya empat puluh delapan ribu yang ikut saya punya seminar, Jakarta cuma berapa hari kita siapkan tujuh ribu yang ikut, karena apa? Catch the time, saya tidak mau waktu itu lewat, ingat ya di antara semua anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, salah satu asset yang tidak bisa beli dengan uang, waktu, kalau saya masih ada 10 tahun, sepuluh tahun itu hartaku loh, dengan waktu setiap hari saya bisa kerja berapa banyak, memuliakan Tuhan, saya harus kejar. Saya mendirikan GRII supaya setelah mati, ada gereja yang meneruskan tradisi membicarakan Firman dengan baik, mengajar dengan theologi yang benar.
Saya sangat terkesan dengan istilah Injil yang murni. Maka sebelum saya bertanya, saya akan share sedikit. Saya sangat terkesan dengan Injil yang murni, sejak pertama kali saya mendengar Bapak berkhotbah di mahasiswa. Salah satu yang menjadi kegelisahan saya adalah soal Injil yang murni ini sudah makin hilang, sekalipun di dunia Theologi. Baik yang kita sebut Liberal dimana memberitakan injil sudah tidak ada lagi, tetapi juga di sisi lain di gereja Injili, Mohon maaf kepada teman-teman, saya kira Injil yang murni juga sulit saya lihat. Misalnya yang diurus adalah soal berebut kedudukan. Itulah sebabnya saya bersyukur melihat orang seperti Bapak di usia seperti ini masih bicara Injil yang murni dan mengkhotbahkan Injil yang murni, Puji Tuhan. Soal memenuhi stadion, saya rasa banyak orang yang bisa memenuhi stadion. Tetapi saya justru menanyakan bagaimana caranya? Bagaimana supaya Injil yang murni yang Bapak beritakan didengar sebanyak-banyaknya orang? Mengapa mendengarkan mimpi dari neraka, orang memenuhi stadion? Mengapa mendengarkan Injil yang murni, stadion tidak penuh? Bahkan saya terpikir tadi, bagaimana caranya supaya Injil yang murni ini tidak hanya didengar dua ratus ribu. Saya kira kalau istora penuh, saya share your vision, saya selalu berkata dua ratus ribu dibanding dengan Jakarta cuma berapa persen, dan bandingkan Yesus tiga belas ribu dengan penduduk di waktu itu bisa mengadakan tiga belas ribu, itu pesentase luar biasa besar. Jika dibandingkan dengan Yesus pada zaman itu, mungkin sekarang sekali khotbah harus ada barangkali minimal lima ratus ribu, supaya equal. Nah itu yang saya katakan tadi bagaimana memaksimalkan orang ke stadion dan sekiranya mungkin juga masuk ke media televisi?
Ini pertanyaan sangat sesuai dengan niat saya, yaitu bagaimana keep the quality and gain the quantity, keep the quality is the first step, never compromise, kalau waktu kita kompromikan kualitas, maka semua pusat kesuksesan tidak memperkenankan Tuhan, karena kita sudah kompromi. Jika Kita pertahankan kualitas tidak kompromi, kita sulit mendapatkan akan kuantitas. Yesus saya usulkan tiga belas ribu itu, karena lima ribu yang dapat makanan adalah laki-laki, pasti ada enam ribu perempuan, pasti ada seribu sampai dua ribu anak-anak, jadi jumlahnya tiga belas ribu. Di dalam Lukas pasal 12, di dalam bahasa Tionghoa puluhan ribu, Bahasa Inggris ribuan orang. Kita tidak tahu di zaman Yesus hidup di dunia, berapa orang di seluruh dunia. Zaman Yesus Kristus hidup, seluruh dunia tidak sampai dua ratus juta, jadi proporsi tadi kalau sampai lima ratus ribu itu nothing, mungkin sekarang dua puluh juta, baru bisa banding Yesus tiga belas ribu, tetapi Yesus kadang-kadang juga mendapatkan pendengar yang sedikit sekali, itu sebab kita mengetahui jumlah bukan the first thing, the first thing is to the point, keep the core. Dimana tertulis Yesus paling sedikit diterima orang lain? Matius pasal 11. Murid-murid-Nya mengusir setan, mendapatkan kuasa kesembuhan, dsb. Tapi Yesus sendiri tidak ada satupun yang bertobat, maka Yesus berkata, Kapernaum, engkau pada saat sudah masuk ke surga, engkau akan turun ke neraka. Karena Injil yang diberitakan kepadamu, kalau diberitakan kepada Sodom dan Gomora, mereka masih ada sekarang, mujizat yang dijalankan kepadamu, kalau dilihat Tirus dan Sidon, maka mereka akan pakai pakaian abu untuk bertobat. Yesus sendiri kadang-kadang tidak mencapai kuantitas, namun demikian bagaimana yang saya harapkan? Mengapa saya pakai stadion? Karena saya bisa memenuhi? Tidak. Dengan kualitas yang saya pelihara dan dengan apa yang saya dirikan, GRII dan sebagainya, banyak orang sengaja menjadi musuh saya. Di Jakarta selain Istora, tidak ada tempat di antara sepuluh - seratus ribu orang, maka kita pakai stadion utama, waktu pertama kali pakai stadion utama, tahun 2003, malam terakhir tiga puluh ribu, maka ada yang mengejek, Stephen Tong gagal memenuhi stadion utama, saya tidak pernah memikirkan harus memenuhi, saya cuma pikir bisa lebih banyak orang dengar Injil, lebih banyak daripada Istora. Kalau tiga puluh ribu pun tidak apa, yang penting adalah berapa banyak yang datang bukan karena daya tarik artis, daya tarik mujizat, kesembuhan, berapa banyak datang itu yang ditarik oleh Tuhan kepada kita, dan yang datang kepada kita, kita bawa kepada Kristus, yang datang kepada Kristus berapa pun tidak ditolak, itu yang menjadi sasaran. Tetapi kita rencana untuk beli waktu dari TV, satu jam puluhan juta dan terus menerus berapa uang saya tidak tahu, tapi saya sudah janji pada Tuhan dan saya harus mengerjakan kehendak Tuhan. Kalau memang kehendak Tuhan, berapa uang itu urusan Tuhan, maka saya kerjakan dulu, lalu uangnya baru dihitung, lalu doa lutut sama Tuhan lalu Tuhan isi. 51 tahun seperti ini, saya kira antara kamu yang melayani kehendak Tuhan juga seperti ini. Engkau mengalami Tuhan itu hidup, tidak pernah Tuhan mempermalukan hambaNya yang sungguh-sungguh melayani, yang paling penting itu ngecek, instropeksi dirimu sungguh-sungguh atau tidak. Kalau tidak jangan kerjakan. Kalau kerjakan jangan takut, kalau sungguh-sungguh Tuhan pasti memberkati. Kira-kira gitu, Kita nanti akan pakai TV untuk siarkan lagi supaya lebih banyak orang bisa dengar, banyak pendeta sengaja beli kaset saya, curi bahan saya, lalu bilang sama anggotanya jangan pergi, dia tidak ada Roh Kudus, pelan-pelan pakai bahan saya khotbah, anggota bilang dengar pendeta saya sama Stephen Tong sama kok bahannya, jadi sini ada Roh Kudus, gak usah pergi ke situ, itu namanya ajaran siasat dari setan. Saya satu orang melawan satu zaman tapi saya tidak takut. Mari kita untuk Injil sama-sama berdoa supaya banyak orang boleh mendengar.
Pak Tong, di tengah kondisi sulit bangsa ini, kenapa Pak Tong mengangkat tema Siapakah Kristus? Kenapa tema itu yang diangkat di tengah-tengah kesulitan bangsa saat ini dan apa output yang nantinya GRII dan Pak Tong harapkan sehingga ini dapat menjadi terang di tengah-tengah bangsa ini?
Ada dua supply dari gereja :
1. The basic for ever and ever never change
2. The temporer supply for every age
Untuk supply dari pada setiap zaman yang berbeda-beda, temanya itu adalah tema yang fleksibel dan tema yang ikut arus. Tapi mensupply yang paling utama, tak pernah berubah yaitu doktrin dari Alkitab, sekarang seluruh trend dari Karismatik adalah sekarang zamannya, bukan lagi doktrin, sekarang Roh Kudus telah memimpin gereja, tidak penting doktrin, pentingnya worship, saya bilang itu omong kosong. Paulus berkata kepada Timotius “Be aware of you yourself and the doctrine you are teaching, because by doing this, you can save yourself and save many people who listen to you.” Jadi ini adalah suatu yang tidak boleh tidak dipentingkan. Siapakah kristus adalah paling dasar daripada seluruh Firman Tuhan. Sekarang Allah menciptakan seluruh dunia, pusatnya apa? Bumi, bukan matahari, karena kehendak Allah dilaksanakan di bumi, jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga. Jadi alam semesta ini pusatnya di bumi, bumi pusatnya apa? Gereja, bukan pemerintah. Pemerintah akan setiap empat tahun ganti presiden, zaman-zaman akan terus silih berganti, tapi kerajaan Allah ganti tidak? Lalu, di dalam gereja apa yang penting? Firman. Pusat Firman siapa? Kristus, Kristus pusatnya apa? Mati dan bangkit. Lalu untuk apa? Untuk menyelamatkan manusia, nah theologi yang paling penting adalah theologi yang sesuai Alkitab yaitu semangat daripada Reformasi, Sola Scriptura, inilah semua ini menjadi satu deretan yang kita harus tahu, sehingga kalau kita mengatakan mengenai ekonomi Indonesia bagaimana, lalu menggunakan stadion utama. Tidak ada gunanya, kalau engkau mengatakan ada pesta besar, ada seratus ribu orang yang makan, pesta yang tidak usah bayar, nah itu ada gunanya. Tapi setelah sudah makan selesai, besok pergi wc lapar lagi, dan itu bukan basic need. Basic need adalah Siapakah Kristus?, kalau manusia mengenal Kristus, sekarang disini dan selama-lamanya ia mendapatkan arah, maka itu yang menjadi saya kerjakan, kalau gereja-gereja lain mau kerjakan mengenai ekonomi, mengenai militer, mengenai politik itu terserah, tapi saya harus menjaga pusat Theologi, Firman, Injil, Kristus, nga boleh kompromi dalam hal ini. Ini beban saya. Terima kasih
(Ditranskrip dari sharing visi Pdt. Stephen Tong dengan para tokoh Kristen pada tanggal 07 Juni 2008)
Biodata Pdt. Dr. Stephen Tong
Pdt. Dr. Stephen Tong melayani Tuhan sejak tahun 1957, baik di dalam bidang penginjilan, theologi, maupun penggembalaan. Pelayanan beliau yang telah terbukti menjadi berkat bagi zaman ini telah menarik perhatian banyak pemimpin gereja, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Perhatian tersebut khususnya ditujukan kepada Reformed Theology yang senantiasa beliau tegaskan. Sejak tahun 1974, beliau mengadakan seminar-seminar di Surabaya. Pada tahun 1984, beliau mulai mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta, untuk menegakkan doktrin Reformed dan semangat Injili. SPIK dipimpin Tuhan untuk menjadi pendahuluan bagi berdirinya Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) pada tahun 1986, di mana Pdt. Dr. Stephen Tong mengajak Pdt. Dr. Yakub Susabda dan Pdt. Dr. Caleb Tong untuk menjadi pendiri bersama.
Selain memimpin SPIK, Pdt. Dr. Stephen Tong juga mendirikan Sekolah Theologi Reformed Injili (STRI) Surabaya (1986), STRI Jakarta (1987), dan STRI Malang (1990). Beliau juga memperluas seminar-seminar pembinaan iman tersebut ke kota-kota besar lainnya di Indonesia dan kota-kota di luar negeri, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI). Sejak tahun 1991 hingga 2007, Pdt. Dr. Stephen Tong menjabat sebagai Rektor STTRII dan sejak tahun 1998 sebagai Rektor Institut Reformed sampai saat ini.
Selain menegakkan doktrin Reformed di Indonesia, beliau juga pernah menjadi dosen tamu pada seminari-seminari di luar negeri, termasuk di China Graduate School of Theology di Hong Kong (1975 dan 1979), China Evangelical Seminary di Taiwan (1976), Trinity College di Singapura (1980), dan memberikan ceramah-ceramah termasuk di Westminster Theological Seminary, Regent College dan sekolah-sekolah lainnya di Amerika Serikat. Beliau juga menjadi pembicara utama pada kongres-kongres seperti International Prayer Assembly (1985), Seminar Kepemimpinan di Amsterdam (1986), Kongres Lausanne ke-2 (1989) dan World Reformed Fellowship (2006).
Beliau studi theologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang hingga gelar Bachelor of Theology (B.Th.). Pada tahun 1985 beliau menerima gelar kehormatan, yaitu Doctorate in Leadership in Christian Evangelism (D.L.C.E.) dari La Madrid International Academy of Leadership di Manila dan pada bulan Mei 2008 menerima gelar kehormatan, yaitu Doctorate in Divinity (D.D.) dari Westminster Theological Seminary, Philadelphia, USA.
Di samping itu, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menjabat sebagai dosen theologi dan filsafat di Seminari Alkitab Asia Tenggara (1964-1988), pendiri STEMI (1979), pendiri Jakarta Oratorio Society (1986), pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada tahun 1989, Gembala Sidang GRII Pusat, ketua Sinode GRII, pendiri Institute Reformed for Christianity and the 21st Century (1996) di Indonesia dan Amerika Serikat, Christian Drama Society (1999) dan pendiri Reformed Center for Religion and Society (2006).***Stephen Tong adalah pendeta dan teolog.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar